65 Persen Masyarakat Pedesaan di Riau Mengamalkan Tarekat Qodiriyah wa Naksyabandiyah
Ringkasan:
Tembilahan (Humas)- Sekitar 65 persen masyarakat pedasaan di Provinsi Riau mengamalkan Tarekat Qodiriyah wa Naksyabandiyah, seperti Bengkalis, Siak, Rokan Hilir (Rohil), termasuk Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Pr...
Tembilahan (Humas)- Sekitar 65 persen masyarakat pedasaan di Provinsi Riau mengamalkan Tarekat Qodiriyah wa Naksyabandiyah, seperti Bengkalis, Siak, Rokan Hilir (Rohil), termasuk Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).
Hal tersebut diungkapkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, dalam tausiah Peringatan Milad ke- 15 Majelis Ta’lim Al- Hidayah Cabang Tembelihan serta Haul Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Haul Syekh Muhammad Ali Bin Syekh Abdul Wahab, di Majelis Ta’lim Ar- Ridho Jl. Harapan Tembilahan Hulu, Senin (12/3).
“Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah sebuah tarekat yang merupakan univikasi dari dua tarekat besar, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Penggabungan kedua tarekat tersebut kemudian dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga terbentuk sebuah tarekat yang mandiri,” jelasnya.
Menurutnya, perkembangan Tariqat khususnya di Indonesia sangat dipengaruhi oleh sosok yang tak lekang oleh waktu, yaitu Syekh Abdul Qadir Al- Jailani. Potret figur sang sufi agung, Syekh Abdul Qodir al- Jailani, pendiri Tarekat Qodiriyyah, yang telah berhasil mewariskan Samudera Sufi dalam bingkai yang sangat elok: menapaki “Syari’at” sebagai basis pijakan laku “Tarekat” guna mencapai “Makrifatullah”. Warisan pedoman hidup penuh keindahan dan kebahagiaan berkarakter sufistik, agar kita bisa pula menjadi kekasih Allah dalam koridor yang lurus, dalam, dan tak sesat.
Syekh Abdul Qadir Jailani merupakan salah seorang tokoh tariqat yang ajaran tariqat ini sejalan dengan perkembangan agama Islam sampai saat ini.
“Tariqat merupakan ajaran yang selalu mengajarkan pengikutnya untuk berbuat baik. Mereka dituntut selalu ingat Allah SWT dimana pun berada dan selalu menjaga hati, lisan dan perbuatan mereka dari perbuatan menyakiti sesama ,” ujarnya. (mus)