Tembilahan (Kemenag) – Sebanyak 91 orang Guru dan Tenaga Kependidikan dari Madrasah baik tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) dilingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Indragiri Hilir menghadiri sekaligus mengikuti kegiatan Pelatihan Guru dan Kepala Madrasah Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) di Provinsi Riau, Selasa (27/8/2024).
Kepala Kantor Kemenag Inhil H. Harun berharap kepada peserta yang mengikuti kegiatan ini agar serius dan sungguh-sungguh mengikutinya dan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yg diperoleh.
“Diharapkan para peserta khususnya peserta dari Madrasah Kab. Indragiri Hilir agar dapat mengikuti kegiatan dengan serius dan sungguh-sungguh serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah-madrasah, serta berkontribusi positif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama di wilayah 3T”, harapnya.Sebelumnya dikutip dari laman website riau.kemenag.go.id. kegiatan pelatihan dibuka oleh Plt. Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Riau H. Muliardi ini dilaksanakan di Ballrooom Premiere Hotel Pekanbaru dalam rangka mendukung kebijakan dan pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi Guru, Kepala Madrasah, dan Tenaga Kependidikan Madrasah di Riau. Kegiatan ini direncanakan selama lima hari, dimulai dari hari Selasa sampai Sabtu, dari tanggal 27 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2024 serta menghadirkan konsultan Komponen 3 Proyek REP-MEQR, Hesbul Bahar dan fasilitator dari pusat dan daerah serta 200 orang peserta terdiri dari kelas Literasi, Bahasa Indonesia, Ekonomi, dan Kepala Madrasah.
Dalam sambutannya Muliardi mengatakan, guru dan kepala madrasah di daerah 3T memiliki peran penting dan strategis dalam membentuk generasi masa depan Bangsa. Karena daerah 3T merupakan wilayah yang memiliki kondisi geografis, sosial, ekonomi dan budaya yang kurang berkembang dibandingkan daerah lainnya, sehingga memerlukan perhatian khusus.
“Dengan pelatihan ini kita berharap akan menignkatkan kompetensi dan kualitas tenaga kependidikan di daerah 3T, karena tidak dapat kita pungkiri daerah 3T masih minim sarana, prasarana dan lainnya. Sehingga menjadi tantangan bagi kita semua untuk bekerja keras mengembangkan sumber daya manusia termasuk fasilitas pendidikan,” ungkap H. Muliardi. (Ria)*