Kampar ( Kemenag)--Di sebuah rumah sederhana di Desa Pulau Terap, seorang ibu terbaring lemah, hampir tak berdaya. Sudah lebih dari lima tahun ia hanya bisa berbaring, ditemani waktu dan kesabaran. Tubuhnya kurus, nyaris tinggal tulang, namun ketika disapa, air matanya perlahan menetes—tanpa suara, tapi sarat makna.
Kehadiran Indra Gamal, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Salo, bukan sekadar kunjungan biasa. Meski bertugas di Salo, beliau adalah putra asli Pulau Terap, Kecamatan Kuok, dan kembali ke kampung halamannya untuk menjenguk warga yang tengah diuji dengan sakit menahun. Kunjungan ini menjadi bentuk nyata dari kepedulian sosial dan spiritual seorang penyuluh agama kepada masyarakat sekitarnya, Senin, 2/6/2025
Yang juga menggetarkan hati adalah kisah sang suami yang juga tengah sakit dan hanya bisa keluar rumah saat shalat Jumat, itupun jika ada warga yang bersedia membantunya menuju masjid
"Hari ini saya tidak datang sebagai pegawai atau penyuluh, tapi sebagai sesama manusia. Sebagai tetangga. Sebagai saudara," ujar Indra Gamal penuh haru.
Dalam pertemuan singkat itu, tidak banyak yang bisa diucapkan. Tapi kehadiran yang tulus seringkali lebih menyembuhkan daripada seribu kata. Air mata sang ibu adalah bahasa bisu yang mengatakan, “Saya tidak sendiri.”
Kunjungan ini bukan hanya menjadi pengingat tentang pentingnya bersyukur atas nikmat sehat, tetapi juga seruan lembut untuk membangun rasa peduli. Bahwa di balik senyapnya rumah-rumah sederhana, ada banyak cerita perjuangan dan ketegaran yang membutuhkan perhatian kita.
Semoga kisah ini menggerakkan hati, membuka mata, dan menyentuh nurani. Karena mungkin, saat kita hadir untuk orang lain, Allah pun menghadirkan pertolongan-Nya untuk kita di waktu yang paling tepat. ( Fatmi )