Antisipasi Non Santri, Tim Keabsahan Diminta Lebih Selektif
Ringkasan:
Surabaya (HUMAS)- Untuk mengantisipasi adanya non santri atau santri dadakan yang ikut dalam Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Nasional (POSPENAS) tim keabsahan Pospenas harus lebih seleksit. Karena ada indikasi, pada Pospenas V tahun 2010 yang berlangsung di Surabaya banyak non santri...
Surabaya (HUMAS)- Untuk mengantisipasi adanya non santri atau santri dadakan yang ikut dalam Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Nasional (POSPENAS) tim keabsahan Pospenas harus lebih seleksit. Karena ada indikasi, pada Pospenas V tahun 2010 yang berlangsung di Surabaya banyak non santri atau santri dadakan yang ikut serta dalam perlombaan.
Demikian diungkapkan Ketua Rombongan Kontingen Pospenas Riau tahun 2010, Drs H Pandji Ade Kh F, Jumat (9/7) terkait dengan adanya indikasi bahwa tim sepak takraw putri Jawa Timur dan Sumatera Selatan merupakan atlet nasional atau atlet yang berasal dari Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP). Kondisi tersebut berdasarkan dari permainan yang cukup profesional yang dilakukan oleh tim-tim tersebut.
"Situasi tersebut bukan hanya Riau saja yang merasakan, tapi juga dirasakan oleh Kontingen Jawa Barat (Jabar) dan daerah lainnya. Apalagi kerancuan permainan cukup tajam, khususnya dicabang olahraga sehingga mau tidak mau yang murni santri harus mengaku kalah dengan keunggulan mereka," terangnya.
Menyikapi fenomena tersebut, tim keabsahan Pospenas V 2010 memastikan akan lebih selektif di dalam menjaring peserta atau atlet santri yang mengikuti Pospenas 2012 mendatang. Ini dilakukan mengantisipasi adanya atlet santri dadakan atau atlet dari PPLP.
"Kami pastikan ke depan, akan lebih selektif lagi di dalam menjaring atau mengabsahkan atlet santri," ujar Koordinator Keabsahan Pospenas V 2010, Agus Prayitno, pada jumpa pers di media center Pospenas 2010 Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Kamis (8/7) kemarin.
Dia mengatakan, selama ini, tim keabsahan Pospenas 2010 sudah melakukan penyeleksian yang didasarkan dari dokumen dari peserta santri. Selanjutnya memverifikasi dokumen para atlet santri di antaranya status santri, ijazah asli dan foto copy, rapor dari ponpes, dan surat keterangan pondok pesantren.
"DiPospenas kali ini dokumen memang lengkap, tidak ditemukan atlet PPLP. Akan tetapi begitu dilaksanakan pertandingan ternyata banyak yang protes," tuturnya.
Mengantispasi hal seperti itu, tim keabsahan akan melibatkan komponen terkait, seperti dari kementerian agama, caranya dengan melakukan tes santri (kemampuan terkait dengan wawasan pondok pesantren) di tingkat pusat, selain itu juga akan dilakukan tes fisik guna mengetahui atlet pondok pesantren yang memiliki keahlian olahraga.
"Nama juga bisa dijadikan bahan untuk verifikasi, contohnya, nama yang tidak asing di pondok pesantren seperti mochamad," paparnya.
Tidak itu saja, langkah selektif ini juga akan menggunakan tim investigasi guna memastikan kebenaran dari data atau dokumen yang dilampirkan menjadi atlet santi di Pospenas 2012 mendatang.(msd/kominfo/js)