Asyari Nur: Bumikan Al- Quran Melalui MTQ
Ringkasan:
Rengat (Humas)- Peradaban global berhasil menyeret umat Islam untuk tidak simpati terhadap Al- Qur` an, menggeser nilai- nilai yang dianut dan meredupkan semangat ummat Islam untuk menjadikan Al- Qur` an sebagai acun hidup. Untuk itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provin...
Rengat (Humas)- Peradaban global berhasil menyeret umat Islam untuk tidak simpati terhadap Al- Qur` an, menggeser nilai- nilai yang dianut dan meredupkan semangat ummat Islam untuk menjadikan Al- Qur` an sebagai acun hidup. Untuk itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH, MM, mengharapkan, melalui event MTQ yang diselenggarakan setiap tahun baik ditingkat Kecamatan, Kabupaten maupun Provinsi menjadi media untuk menumbuhkan kembali semangat umat Islam di tengah- tengah pertarungan global tersebut yang cendrung membuat manusia lupa terhadap agama.
Ia mengatakan, Al- Qur` an merupakan kalam Allah yang berisi petunjuk yang dapat menyelamatkan dan membahahagiakan bagi siapa pun yang mengikuti dan mengamalkannya. Oleh karena itu, berbagai cara yang dilakukan untuk mengeksiskan Al- Qur` an sepanjang zaman, salah satu alternative yang terbaik adalah melalui kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur` an (MTQ).
"Namun sayang, terkadang MTQ hanya pandang sebagai kegiatan ceremonial belaka, karena usai acara usai pula upaya untuk belajar dan mengamalkan apa yang didapatkan dari isi kandungan Al- Qur` an. Kedepan, masyarakat hendaknya menjadikan event ini sebagai ajang untuk menyemarakkan Al- Qur` an sekaligus mendudukkan kembali Al-Quran sebagai sember keyakinan, aturan, norma, pandangan hidup, dan cara berpikir kaum muslimin," tegasnya.
Padahal, kata Asyari, melihat sejarah singkat MTQ secara sederhana dimaknai dengan kegiatan perlombaan al-Quran dengan berbagai macam jenis yang diperlombakan dengan tujuan untuk membangkitkan gairah dan semangat umat Islam untuk berpegang teguh terhadap Al-Quran yang pada saat itu sudah mulai memudar.
"Saat pertama MTQ digelar menimbulkan pro dan kontra, namun setelah para ulama tersebut menjelaskan bahwa apabila Al- Qur` an diperlombakan dengan tujuan menggairahkan membaca dan menghayati Al-Qur` an karen Allah semata, maka hukumnya sunat, yaitu berpahala dikerjakan. Tetapi, apabila al-Qur` an itu diperlombakan sebagai alat untuk mencapai tujuan keduniaan dengan riya maka hukumnya haram," jelas Asyari.
Untuk itu, ia berahap agar perhelatan tahunan tersebut hendaknya disemarakkan dan dimeriahkan dalam rangka menyiarkan dan mengembalikan tujuan awal dilaksanakannya MTQ, yaitu untuk membangkitkan gairah dan semangat umat Islam untuk berpegang teguh terhadap AL- Qur` an.
"Selain itu, untuk menyemarakkan dan mensyi` arkan perhelatan akbar MTQ tersebut, kita meminta kepada masyarakat untuk meningkatkan peran serta lembaga-lembaga agama dan ormas-ormas keagamaan di wilayah kerja masing-masing. Sehingga, semarak event keagamaan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," himbaunya. (msd)