0 menit baca 0 %

Asyari Nur: Membimbing 38 Muallaf Suku Akid Merupakan Keharusan

Ringkasan: Meranti (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, Selasa (7/12) kemarin berkunjung sekaligus menghadiri Bimbingan Iman dan Takwa serta Pelatihan Iqra bagi Muallaf Suku Akit yang ditaja oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Prov...
Meranti (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, Selasa (7/12) kemarin berkunjung sekaligus menghadiri Bimbingan Iman dan Takwa serta Pelatihan Iqra bagi Muallaf Suku Akit yang ditaja oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Riau di Selat Akar (Desa/ Kampung Muallaf) Desa Bandul Kabupaten Kepulauan Meranti. Acara yang berlangsung di Masjid Selat Akar dihadiri oleh 13 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 38 orang yang baru saja masuk Islam. Pada kunjungan tersebut, Asyari Nur juga melakukan tepung tawar kepada 38 orang Saudara Baru (Muallaf) yang telah mengucapkan syahadat dan masuk agama Islam. Selain itu, Asyari juga menyerahkan bantuan berupa dana operasional masjid Rp5 juta, bantuan Al- Qur`an dan Al- Qur`an terjemah untuk menunjang kegiatan keagamaan masyarakat Suku Akit yang kesehariannya bekerja sebagai Nelayan dan Berkebun. "Alhamdulillah Saudara Baru (Muallaf) bertambah, ini menunjukkan bahwa agama Islam merupakan agama penuntun dan agama yang benar. Untuk itu, sebagai seorang muallaf, harus menjalankan kewajibannya sebagaimana kewajiban yang dijalankan oleh orang-orang Islam, yaitu menjalankan rukun Islam dan rukun Iman. Rukun Iman yaitu beriman kepada Allah, Beriman kepada Malaikat, Kitab Allah, Beriman kepada Rasul, beriman kepada hari kiamat dan qada dan qadar. Rukun Islam yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, puasa, membayar zakat dan menunaikan haji jika mampu. Muallaf harus sadar dan menjalankan tanggungjawabnya sebagai orang muslim," terang Asyari dalam sambutannya. Selain itu, Ia juga mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada penyuluh agama dari DDII yang telah sampai kedesa terpencil tersebut untuk memberikan penyuluhan agama. Untuk itu, bimbingan keagamaan untuk para muallaf harus terus diberikan, hingga para muallaf tersebut benar-benar bisa mandiri dan memahami bacaan al- qur`an. "Tugas membimbing memang cukup berat, apalagi mereka belum pandai baca al- qur`an, karena ini merupakan keharusan kita sebagai umat muslim. Jadi perlu kesabaran dalam memberikan bimbingan iman dan takqa serta pelatihan iqra," jelasnya. Sementara itu, salah seorang Suku Akid (Anak Laut) yang muallaf, Salamah (35th), menuturkan, keinginannya untuk memeluk agama Islam didorong oleh rasa tersentuh atas syiar Islam yang disampaikan oleh DDII yang kerab datang berkunjung di desa terpencil tempat ia tinggal. Dari dakwah-dakwah yang disampaikan, begitu menyentuh dengan mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan dalam hidup. "Kami sangat mengharapkan bimbingan dan pembinaan dalam kehidupan, khususnya dalam memahami ajaran agama Islam itu sendiri. Selain itu, kami juga mengharapkan perhatian pemerintah dalam hal pembangunan ekonomi kerakyatan, sehingga masyarakat Suku Laut juga bisa menikmati perekonomian yang layak," ucapnya penuh harap. Pada akhir pertemuan dengan 38 muallaf di Desa Bandul, Ka Kanwil Kemenag Riau menyalami mereka satu persatu seraya menyisipkan cendra mata berupa selebaran uang ratusan ribu untuk setiap orang. Tentu saja, itu menambah kegembiraan para muallaf yang memang kesehariannya hidup dibawah garis kesederhanaan. (msd)