0 menit baca 0 %

Bedah Pemikiran Mu tazilah: Tiga Penyuluh Agama Islam Kajian Kitab Al Mausu ah Al Muyassarah di MUI Kampar

Ringkasan: Bangkinang Kota (Kemenag)--Dalam rangka memperdalam pemahaman terhadap khazanah pemikiran Islam klasik dan kontemporer, tiga Penyuluh Agama Islam Kabupaten Kampar Iskandar, M.E.Sy, Ilhami, M.E.Sy, dan Muhammad Alfis, M.H mengikuti kajian kitab Al Mausu'ah Al Muyassarah fil Adyan wal Madzahib wal Ahz...

Bangkinang Kota (Kemenag)--Dalam rangka memperdalam pemahaman terhadap khazanah pemikiran Islam klasik dan kontemporer, tiga Penyuluh Agama Islam Kabupaten Kampar Iskandar, M.E.Sy, Ilhami, M.E.Sy, dan Muhammad Alfis, M.H mengikuti kajian kitab Al Mausu'ah Al Muyassarah fil Adyan wal Madzahib wal Ahzab Al Mu ashirah di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kampar, Selasa (8/7/2025).

Kajian ini diasuh langsung oleh Buya In Shaher, Lc., M.E.I., Pimpinan Pondok Pesantren Al Badr Bangkinang Kota. Dalam pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada pemikiran rasional kelompok Mu tazilah, salah satu aliran penting dalam sejarah intelektual Islam.

Iskandar menyampaikan bahwa kajian ini merupakan agenda rutin setiap hari Selasa yang ditujukan untuk memperkuat kapasitas intelektual dan spiritual para penyuluh agama.

Dengan memahami sejarah pemikiran umat Islam, kita bisa semakin arif dalam menyikapi keragaman paham yang berkembang, serta mampu menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah masyarakat, ujarnya.

Ilhami, yang mendapat tugas merangkum jalannya diskusi, menjelaskan bahwa Mu tazilah dikenal sebagai kelompok pemikir rasional yang mengedepankan akal dan menekankan keadilan Tuhan dalam memahami agama.

Sementara itu, Muhammad Alfis tampak aktif berdialog dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memperkaya suasana kajian.

Buya In Shaher memaparkan materi dengan sistematis dan mendalam. Ia menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap isi kitab Al Mausu ah, khususnya dalam menjelaskan kerangka pemikiran berbagai aliran dalam Islam, termasuk Mu tazilah.

> Kajian ini penting bukan hanya untuk mengetahui apa yang kita anut, tetapi juga agar kita bisa memahami sejarah dan dasar pemikiran kelompok lain. Dengan begitu, kita akan lebih bijak dan tidak mudah terjebak dalam penghakiman yang sempit, terang Buya In Shaher.

Kegiatan ini diharapkan terus berlanjut sebagai sarana penguatan dakwah Islam berbasis ilmu pengetahuan yang mendalam, moderat, dan menyeluruh di Kabupaten Kampar.  (Ilhami/Fatmi)Â