0 menit baca 0 %

Bersalawat dan Meneladani Sifat-sifat Rasul SAW Perwujudan Cinta Kepadanya

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Hikmah dilahirkan dan diutusnya Rasulullah saw diantarnya adalah agar umat Islam mampu meneladani sifat-sifat mulia dan ilmu yang dia wariskan kepada umat manusia. Demikian uraian tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Said Aqil Husin Al-Munawwar, MA di hadapan jamaah yang me...
Pekanbaru (Humas)- Hikmah dilahirkan dan diutusnya Rasulullah saw diantarnya adalah agar umat Islam mampu meneladani sifat-sifat mulia dan ilmu yang dia wariskan kepada umat manusia. Demikian uraian tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Said Aqil Husin Al-Munawwar, MA di hadapan jamaah yang memadati Masjid Agung Annur Pekanbaru, Senin pagi (6/2). Acara diikuti oleh Gubernur Riau, Kanwil Kemenag Prov. Riau, Forum Pimpinan Daerah, MUI, Pimpinan DPRD Riau, Kepala Dinas/Badan, Alim Ulama, karyawan di lingkungan Kanwil/Kankemenag Kota Pekanbaru, siswa-siswi madrasah, dan jamaah kaum muslimin. “Rasulullah saw dilahirkan ke dunia sebagai pembawa rahmatan bagi umat manusia bahkan seluruh alam. Nama Rasul saw sudah disebut-sebut jauh sebelum beliau dilahirkan. Ketika lahir beliau tidak seperti manusia biasa, karena sudab berkhitan, putus tali pusatnya, itulah suatu tanda bahwa kehadirannya ke dunia benar-benar dipersiapkan”, ungkap Said Aqil mantan Menteri Agama Kabinet Pembangunan Megawati. Lebih lanjut dikatakannya karena Allah swt ingin mencurahkan rahmat dan kasih sayangnya kepada makhluk ciptaanNya, maka diutuslah Rasullullah sebagai Nabi terakhir dan merupakan mustafa (Nabi pilihan) di antara Nabi-nabi pilihan lain. “Jadi datangnya Nabi saw adalah pada waktu yang sangat tepat, ketika manusia berada dalam zaman jahiliyah (kebodohan). Bukan bodoh karena tidak cerdas, tetapi bodoh karena mengikuti hawa nafsu, tidak bisa membedakan mana yang hak dan batil, mana yang benar dan salah. Pokoknya ketika itu manusia berada pada titik terendah kemanusiaan. Karena itu, kalaulah Nabi Muhammad saw tidak diutus maka musnahlah moral dan peradaban manusia”, jelasnya. Rasullulah saw adalah benar-benar manusia yang patut dipuji, sehingga Allah swt sendiri memujinya dalam Qur’an “wa innaka la’ala khuluqin azhim”. Sesungguhnya engkau ya Muhammad berada di atas akhlaq yang paling sempurna”. “Ada pendapat para ulama yang menyatakan bahwa karena Allah sudah memuji beliau dengan setinggi-tinggi pujian, maka segala pujian selainNya tidak akan menambah keagungan beliau. Untuk itulah sebagai umat Nabi Muhammad saw sudah sepatutnya kita memperbanyak shalawat dan meneladani sifat-sifat mulia yang diwariskannya sebagai wujud kecintaan kepadanya. Sifat-sifat mulia itu kualitasnya di atas rata-rata manusia, seperti sabar, tawadhu’, zuhud, qanaah, adil, amanah, pemimpin pasukan di medan peperangan, namun sebagai kepala rumah tangga yang sangat baik terhadap keluarga”, tambahnya. (as).