0 menit baca 0 %

Bimas Katolik Kanwil Kemenag Riau taja Pembinaan peningkatan kompetensi guru pendidikan agama katolik se Rohil

Ringkasan: Rokan Hilir (inmas)- Pembinaan Kompetensi guru agama katolik tahun 20 yang di selenggarakan oleh Bimas Katolik Kanwil Kemenag Riau pada Jumat, 11 September 2020 yang lalu di Aula Gereja Katolik Santa Maria Ratu Rosario, Bagan Batu Kecamatan Bagansinembah.Kegiatan pembinaan yang diikuti 30 peserta gu...

Rokan Hilir (inmas)- Pembinaan Kompetensi guru agama katolik tahun 20 yang di selenggarakan oleh Bimas Katolik Kanwil Kemenag Riau pada Jumat, 11 September 2020 yang lalu di Aula Gereja Katolik Santa Maria Ratu Rosario, Bagan Batu Kecamatan Bagansinembah.

Kegiatan pembinaan yang diikuti 30 peserta guru pendidikan agama katolik tersebut dibuka secara resmi oleh kepala Kanwil Kemenag Riau yang diwakili Pembimas Katolik, Alimasa Gea, S.Ag, M.Pd  dan sekaligus memberikan sambutan dengan menghadirkan empat orang narasumber, diantaranya Humas Kankemenag Rohil mewakili Plt. Kepala Kankemenag Rohil pada saat bersamaan menghadiri undangan Pondok Pesantren Al-Muhsinin Kec. Rimba Melintang.

Ia juga menjelaskan tujuan dari pelaksanaan kegiatan adalah meningkatkan Kompetensi guru pendidikan agama Katolik, disamping itu untuk meningkatkan mutu pembelajaran agama Katolik di sekolah dan mempererat tali silaturahmi antar guru. Sementara sasaran yang hendak dicapai adalah para guru agama tingkat pendidikan dasar yang terdiri dari guru SD, SMP dan SMA.

Menurutnya jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat dia akan terpuruk secara profesional, kalau hal ini terjadi dan akan kehilangan kepercayaan baik peserta didik, orangtua maupun masyarakat dan bahkan pemerintah.

Disebutkan untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut maka guru perlu berpikir secara antisipatif dan juga proaktif. Artinya guru harus melakukan pembaharuan ilmu pengetahuan sedemikian secara terus menerus. Disamping itu guru masa depan harus paham penelitian, mampu mengadakan proses penelitian guna mendukung efektivitas pengajaran yang dilaksanakan oleh guru itu sendiri. Penelitian terhadap lingkungan kelas,  tindakan kelas, tindakan terhadap sikap dan perilaku anak-anak didiknya. Dengan kata lain guru harus punya kompetensi. Disamping itu guru masa depan harus mampu melakukan penelitian sehingga dengan dukungan hasil guru tidak terjebak pada hasil guru tidak terjebak pada hasil pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif namun dalam kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didik.

Selanjutnya dalam sambutannya Pembimas katolik memaparkan tentang tugas dan tanggung jawab seorang guru.. Ia mengatakan, bagaimana proses pendidikan agama katolik bisa melahirkan anak-anak generasi katolik ini untuk mejaga kebersamaan internal dan kebersamaan antar masyarakat.

Dikatakan ada 3 mantra sebagai hasil dari pada rakernas Kementerian Agama tahun 2018. Pertama,  Moderasi beragama. Kedua,  jaga kebersamaan. Ketiga adalah penigkatan kualitas pelayanan.

Menurut Alimasa Gea,l tugas semua masyarakat terutama yang berada di dalam lingkup kementerian agama adalah menjaga kebersamaan. Di kesempatan itu bertanya kepada peserta pembinaan, bagaimana cara guru menjaga kebersamaan ?.

Menurutnya, para guru harus mendidik anak-anak didiknya untuk memahami tentang perbedaan untuk memahami tentang kemajemukan, dan kemudian menjadi generasi yang moderasi beragama, mampu untuk menerima perbedaan dan saling menghargai dan saling menghormati. (Nsh)