0 menit baca 0 %

BPOM Inhu Sosialisasikan Program Sekolah Pangan Aman, Madrasah Jadi Pionir Budaya Konsumsi Sehat

Ringkasan: Indragiri Hulu (Kemenag) Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bebas dari pangan berisiko digencarkan di Kabupaten Indragiri Hulu. MA Madinatun Najah Rengat menjadi tuan rumah Sosialisasi Program Sekolah dengan Pembudayaan Makanan Pangan yang dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Obat dan...

Indragiri Hulu (Kemenag) – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan bebas dari pangan berisiko digencarkan di Kabupaten Indragiri Hulu. MA Madinatun Najah Rengat menjadi tuan rumah Sosialisasi Program Sekolah dengan Pembudayaan Makanan Pangan yang dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Inhu pada Kamis (11/9). Kegiatan ini melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, MI, MTs, SMP, MA hingga SMA di wilayah Rengat dan Rengat Barat.

Program ini dirancang sebagai langkah preventif untuk membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya konsumsi pangan yang aman, sehat, dan bergizi. Tim Sosialisasi BPOM Inhu menegaskan bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai agen perubahan gaya hidup sehat.

“Anak-anak adalah konsumen aktif. Dengan memberi mereka pengetahuan sejak dini, kita bukan hanya menjaga kesehatan mereka, tetapi juga membentuk generasi yang lebih peduli pada keamanan pangan,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi tentang memilih jajanan sehat di sekolah, tetapi juga mendorong pihak madrasah dan sekolah umum untuk menciptakan budaya sadar pangan. Melalui sosialisasi ini, guru, siswa, dan orang tua diharapkan mampu bekerja sama mengawasi sekaligus mendorong hadirnya kantin sehat di lingkungan pendidikan.

Menurut salah satu guru pendamping, langkah BPOM ini sangat relevan dengan kondisi di lapangan.

“Masih banyak anak-anak yang jajan tanpa memperhatikan kandungan gizinya. Sosialisasi ini bisa membuka mata kita untuk lebih selektif dalam mendampingi anak-anak saat memilih makanan,” katanya.

Secara langsung, kegiatan ini berdampak pada peningkatan kesadaran siswa akan pentingnya pola makan sehat. Sementara secara tidak langsung, ia dapat memicu terciptanya lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap kesehatan, sekaligus mengurangi risiko penyakit akibat pangan yang tidak layak konsumsi.

Dengan keterlibatan banyak sekolah di Rengat dan Rengat Barat, diharapkan gerakan ini menjadi awal dari lahirnya ekosistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga kesejahteraan fisik dan kesehatan generasi muda.

(Reski)