0 menit baca 0 %

BRUS di MTsN 2 Bengkalis, M. Khairul Fikri Kupas Tuntas Risiko Pernikahan Usia Dini

Ringkasan: Bantan (Kemenag) Pada hari Jumat (26/9/2025) pada pukul 09.00 WIB, Aula MTsN 2 Bengkalis menjadi pusat kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang diikuti oleh 60 siswa. Kegiatan ini menghadirkan M. Khairul Fikri, Penyuluh/Penghulu KUA Kecamatan Bantan, sebagai narasumber dengan materi utama...

Bantan (Kemenag) – Pada hari Jumat (26/9/2025) pada pukul 09.00 WIB, Aula MTsN 2 Bengkalis menjadi pusat kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang diikuti oleh 60 siswa. Kegiatan ini menghadirkan M. Khairul Fikri, Penyuluh/Penghulu KUA Kecamatan Bantan, sebagai narasumber dengan materi utama tentang bahaya nikah di usia dini.

Dalam pemaparannya, M. Khairul Fikri menjelaskan bahwa pernikahan di usia dini dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental pasangan, khususnya bagi remaja. Ia menekankan bahwa kesiapan usia, psikologis, dan ekonomi sangat penting sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Pernikahan dini sering kali menimbulkan masalah dalam rumah tangga, seperti perceraian, kurangnya kematangan emosional, hingga risiko kesehatan pada ibu dan anak.

Beliau juga memberikan nasihat kepada para siswa agar fokus pada pendidikan dan pengembangan diri terlebih dahulu. “Remaja harus mempersiapkan masa depannya dengan belajar dan meningkatkan keterampilan. Jangan terburu-buru menikah sebelum benar-benar siap, baik dari segi usia maupun tanggung jawab,” ujarnya.

Setelah pemaparan materi, sejumlah siswa MTsN 2 Bengkalis terlihat antusias mengajukan pertanyaan. Salah satu siswa bertanya:

Siswa: “Pak, kalau menikah di usia muda itu apa dampaknya bagi pendidikan kami?”

M. Khairul Fikri: “Menikah di usia muda akan membatasi ruang belajar kalian. Banyak yang akhirnya putus sekolah, fokusnya berubah, dan tanggung jawab rumah tangga jauh lebih berat daripada tanggung jawab sebagai pelajar. Karena itu, sebaiknya fokus dulu pada pendidikan.”

Siswa lain juga menanyakan tentang kesiapan mental sebelum menikah.

Siswa: “Bagaimana cara mengetahui kita sudah siap menikah, Pak?”

M. Khairul Fikri: “Tanda kesiapan menikah tidak hanya soal umur, tapi juga mental, ekonomi, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Kalau masih mudah marah, belum punya pendapatan, atau belum matang berpikir, berarti belum siap menikah.”

Beliau menutup sesi tanya jawab dengan pesan:

“Jangan terburu-buru menikah. Lengkapi dulu pendidikan, persiapkan masa depan, baru pikirkan pernikahan. Itu akan membuat hidup kalian lebih terarah.”

Melalui kegiatan BRUS ini diharapkan siswa-siswa MTsN 2 Bengkalis lebih memahami pentingnya perencanaan masa depan dan menjauhi pernikahan di usia dini.