Meranti(Kemenag)– Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti, Sulman, secara resmi membuka kegiatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Selasa (5/8/2025). Kegiatan ini diikuti oleh para guru MTs dan MA se-Kecamatan Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir.
Dalam sambutannya, Sulman menyampaikan bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan salah satu terobosan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah, terutama dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak, peduli, dan penuh empati.
“Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan hati. Kurikulum berbasis cinta ini menjadi pijakan untuk menciptakan pembelajaran yang menyentuh sisi kemanusiaan siswa dan mendorong mereka berpikir secara mendalam,” ujar Sulman.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Tiffani, Widyaiswara dari Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru. Dalam paparannya, Tiffani menjelaskan prinsip-prinsip kurikulum berbasis cinta yang menekankan pada relasi hangat antara guru dan siswa, pembelajaran yang memanusiakan manusia, serta pendekatan deep learning yang menstimulasi daya pikir kritis, reflektif, dan bermakna.
Turut hadir dan memberikan penguatan, Pengawas Madrasah Kemenag Kepulauan Meranti, Sri Hartini. Ia menyampaikan bahwa perubahan kurikulum ini harus dimulai dari perubahan pola pikir para guru.
“Kurikulum ini menuntut guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai fasilitator dan pendamping yang memahami kondisi emosional dan psikologis siswa. Saya berharap para guru bisa menginternalisasi nilai-nilai cinta dalam setiap proses pembelajaran,” ujar Sri Hartini.
Selama kegiatan berlangsung, para guru terlibat aktif dalam sesi diskusi, simulasi pembelajaran, serta praktik langsung merancang perangkat ajar yang sesuai dengan pendekatan deep learning.
Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para peserta. Mereka menilai pelatihan ini sebagai angin segar dalam dunia pendidikan madrasah yang terus bergerak menuju pendekatan pembelajaran yang lebih humanis dan transformatif.
Kepala Kemenag Meranti berharap agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh ke dalam ruang-ruang kelas, serta menjadi agen perubahan dalam menciptakan madrasah yang unggul, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. (T)