0 menit baca 0 %

Buku Pelajaran Sain Sekarang Banyak Bebas Nilai

Ringkasan: Pekanbaru (Humas) - Buku pelajaran sains di sekolah hari ini, seperti matematika, fisika, kimia dan lain-lain banyak yang bebas nilai. Oleh sebab itu, buku-buku tersebut perlu dikoreksi ulang. Kalau perlu dibuat buku baru yang mendukung pendidikan yang berkarakter.
Pekanbaru (Humas) - Buku pelajaran sains di sekolah hari ini, seperti matematika, fisika, kimia dan lain-lain banyak yang bebas nilai. Oleh sebab itu, buku-buku tersebut perlu dikoreksi ulang. Kalau perlu dibuat buku baru yang mendukung pendidikan yang berkarakter. Hal itu disampaikan Dr. Syamsu Duha saat memberikan materi “Konsep Pembelajaran Terpadu, Sebuah Alternatif dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sains di Madrasah” dalam rapat evaluasi peningkatan mutu pendidikan madrasah kepada 114 orang kepala sekolah madrasah, pengawas dan tenaga pendidikan keagamaan lainnya di Grand Central Hotel, Pekanbaru, 21/11. “Sudah saatnya buku-buku pelajaran di sekolah, baik bidang sosial maupun exact berbasiskan akidah,” lanjut tenaga pengajar Universitas Riau tersebut. “Pembelajaran matematika selama ini hanya menggunakan otak kanan, semestinya juga menggunakan otak kiri. Dan pelajaran matematika sekarang seolah-olah mengatakan warna itu hanya ada benar dan salah, atau hitam dan putih saja. Padahal idealnya tidak demikian,” kata anak Melayu tamatan Manchester University tersebut. Menurut Syamsu lagi, pelajaran matematika kita kini seolah-olah menjadikan manusia sebagai mesin. “Misal, 1 + 1 = 2. Hasil 2 itu bisa dicari dengan kalkulator. Kalkulator tak bisa tahu makna dari angka 2 tersebut. Maknanya itulah yang lebih penting sebenarnya,” kata anak jati Kepulauan Meranti ini menambahkan. “Pun, dalam pelajaran sejarah misalnya, sering yang ditanyakan saat ujian itu, misalnya tanggal berapa terjadi perang Diponegoro? Padahal yang paling urgen ditanyakan itu, proses apa yang terjadi sebelum pecahnya perang itu, atau kenapa sampai Diponegoro ditangkap. Apakah di sana ada pengkhianat atau bagaimana? Dan yang paling penting itu, dalam pelajaran sejarah Pangeran Diponegoro tersebut adalah nilai kepahlawanan yang ditanamkan kepada anak didik,” kata Syamsu. “Hidup ini pun menurut saya yang paling penting itu pada proses. Hasil akhir itu bukan urusan manusia, itu urusan Tuhan,” kata DR Syamsu Duha. “Supaya sukses proses belajar itu, maka guru hendaknya menjadi teladan. Jadilah guru itu sahabat bagi anak didiknya. Kalau anak didik sudah senang hati pada gurunya maka anak tersebut akan serius mengikuti pelajaran. Selain itu, guru sains hendaknya perlu diberi pengayaan pemahaman keagamaan yang baik demi menuju pendidikan berkarakter yang sedang dicita-citakan itu,” lanjut Syamsu. Selain itu, menurut Syamsu Duha lagi, bahwa pelaksanaan Bimbingan Belajar (Bimbel) di Indonesia selama ini merupakan bukti kegagalan proses belajar di sekolah. “Perlu kita tahu, bahwa bimbel itu hanya ada di Indonesia. Bimbel itu merupakan potret ketidak-berhasilan proses belajar-mengajar di sekolah Indonesia. Semestinya semua persoalan yang rumit untuk UN itu sudah terselesaikan oleh sekolah,” kata lulusan Manchester university, Inggris tersebut. Zalia Rani, S.Ag, salah-seorang peserta menyebutkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi tenaga pendidikan. “Saya merasa puas dengan materi-materi yang disampaikan. Di samping materinya bagus, si pemberi materi pun sangat beilmu dan berwawasan luas,” kata pegawai Mapenda Kemenag Pelalawan tersebut menjelaskan. Sementara itu, ketua panitia, Ilyas MAg yang juga Kasi Kelembagaan dan Tata Laksana pada Mapenda Kanwil Kemenag Provinsi Riau tersebut menjelaskan. “Ke depan, Bidang Mapenda akan berupaya melaksanakan orientasi pelajaran sains di madrasah dengan memasukkan materi akidah atau tauhidnya,” kata Ilyas. (griven)