0 menit baca 0 %

Cahaya Iman Menembus Lorong RS Thursina, Penyuluh Agama Mandau Tebar Harapan dan Doa

Ringkasan: Mandau (Kemenag) Di tengah deru aktivitas medis dan aroma khas rumah sakit, Jumat (15/8/2025) menjadi hari yang berbeda di Rumah Sakit Thursina. Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandau, Zul Afriandi, hadir membawa misi mulia: menyapa hati, menguatkan jiwa, dan menebar cahaya rohani kepada para pasien...

Mandau (Kemenag) – Di tengah deru aktivitas medis dan aroma khas rumah sakit, Jumat (15/8/2025) menjadi hari yang berbeda di Rumah Sakit Thursina. Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mandau, Zul Afriandi, hadir membawa misi mulia: menyapa hati, menguatkan jiwa, dan menebar cahaya rohani kepada para pasien yang tengah berjuang melawan sakit.

Sejak memasuki ruangan, Zul Afriandi tak hanya membawa senyum dan salam, tetapi juga kata-kata yang menenangkan hati. Satu per satu pasien – berjumlah 15 orang – mendapatkan bimbingan rohani, nasihat penuh hikmah, serta doa yang dipanjatkan dengan tulus agar mereka diberi kekuatan, kesabaran, dan kesembuhan.

"Kesembuhan datang dari Allah, dan sakit pun bisa menjadi pintu ampunan serta pengangkat derajat," ucapnya, membuat beberapa pasien tampak menitikkan air mata haru.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi erat antara Penyuluh Agama dan RS Thursina yang memiliki visi sama: memberikan pelayanan prima tidak hanya di ranah fisik, tetapi juga spiritual. Pasien tidak hanya dirawat lukanya, tetapi juga dihangatkan hatinya.

Tidak berhenti di ruang pasien, Zul Afriandi melangkah menuju ruang perawat, menyapa para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan. Ia berbagi pencerahan tentang konsep pelayanan prima dalam Islam, yang tidak hanya mengutamakan profesionalisme, tetapi juga keikhlasan dan kasih sayang.

Suasana menjadi lebih hidup ketika seorang perawat bernama Ledies mengajukan pertanyaan, Apakah ada pahala bagi perawat dalam merawat pasien?” Zul Afriandi menjawab dengan nada teduh namun penuh keyakinan, Ketika niat sudah ikhlas, insyaa Allah setiap langkah, setiap sentuhan, bahkan setiap tetes keringat menjadi pahala yang tak terputus.”

Jawaban itu membuat beberapa perawat tersenyum dan mengangguk, seolah menemukan kembali alasan mereka memilih profesi ini. Pesan Zul Afriandi bukan sekadar teori, tetapi energi yang menguatkan hati mereka untuk terus melayani dengan sepenuh jiwa.

Bagi Zul Afriandi, bimbingan rohani di rumah sakit bukan hanya rutinitas, melainkan ibadah sosial yang menyentuh sisi terdalam kemanusiaan. Baginya, pasien adalah tamu Allah yang sedang diuji, dan tenaga medis adalah perantara kasih sayang-Nya.

Di hari itu, RS Thursina tak hanya menjadi tempat penyembuhan raga, tetapi juga rumah bagi doa, pengharapan, dan kehangatan iman.