Kampar ( Kemenag )---14 Oktober 2025 — Suasana kelas Seni Budaya di madrasah hari ini terasa berbeda. Dentingan lembut alat musik bambu terdengar harmonis saat para siswa memainkan angklung, alat musik tradisional khas Sunda yang kini menjadi media pembelajaran menarik dalam mengenal kekayaan budaya Nusantara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya (musik tradisional) yang diampu oleh Nuri Melki, S.Pd. Ia menjelaskan bahwa mempelajari musik tradisional tidak hanya soal nada dan irama, tetapi juga menyangkut identitas dan warisan budaya bangsa.
“Angklung bukan sekadar alat musik, tetapi simbol harmoni dan kerja sama. Melalui permainan ini, siswa belajar bagaimana pentingnya kekompakan, keseimbangan, dan rasa saling mendengar,” ujar Nuri Melki.
Para siswa tampak antusias memegang dan menggoyangkan angklung sesuai dengan arahan guru. Setiap kelompok berlatih memainkan lagu daerah dengan penuh semangat, menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan.
Selain menumbuhkan kecintaan terhadap seni, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai gotong royong dan kebersamaan di antara siswa. Melalui permainan angklung, mereka belajar bahwa keindahan hanya tercipta jika semua unsur bekerja selaras.
Angklung sendiri berasal dari tanah Sunda, Jawa Barat, dan telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Dengan menghadirkan pembelajaran berbasis budaya lokal seperti ini, madrasah berupaya menanamkan rasa bangga dan tanggung jawab kepada generasi muda untuk terus melestarikan musik tradisional Indonesia.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi agar siswa tidak melupakan akar budayanya. Dari bambu-bambu yang sederhana, kita bisa menciptakan harmoni yang luar biasa,” tambah Nuri Melki menutup kegiatan.
Melalui nada-nada bambu yang bergetar di ruang kelas, semangat cinta budaya lokal terus tumbuh, mengiringi langkah para siswa untuk menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter
Fatmi