Kemenag (Kuansing)Ngobrol Perkara Iman di Masjid Al-Hidayah Koto Baru, Jemaah Semakin Ramai dan Nyaman
Kamis sore, 14 Agustus 2025, menjelang waktu Magrib sekitar pukul 18.20 WIB, suasana di samping Masjid Al-Hidayah, Desa Koto Baru, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi tampak begitu hidup dan penuh semangat. Bukan hanya karena waktu berbuka puasa sunnah atau suasana jelang shalat Magrib, tetapi karena sebuah kegiatan sederhana namun sarat makna: Ngobrol Perkara Iman (Ngopi).
Kegiatan ini diinisiasi secara informal namun perlahan menjadi bagian dari rutinitas warga. Para jemaah, tua dan muda, berkumpul di area samping masjid yang kini telah dilengkapi fasilitas yang cukup memadai—tempat duduk permanen, meja kayu yang nyaman, serta kanopi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari.
PAI Singingi Hilir, Mahyu Budiman, S.Pd.I, yang hadir langsung ke lokasi, menyampaikan apresiasi atas peningkatan partisipasi jemaah dalam kegiatan keagamaan. Dalam konfirmasinya kepada Ketua Masjid Al-Hidayah, Yulisman, diketahui bahwa peningkatan kenyamanan fasilitas masjid menjadi salah satu kunci utama meningkatnya jumlah jemaah dalam beberapa bulan terakhir.
“Sejak kita pasang enam unit AC di dalam masjid, jemaah meningkat drastis. Bahkan banyak dari luar desa juga ikut berjemaah ke sini. Kami juga tambah tempat duduk dan meja di luar, agar mereka bisa nyaman menunggu waktu shalat. Setelah Magrib, ada teh dan kopi gratis, sambil ngobrol ringan seputar agama,” ujar Yulisman dengan semangat.
Ngobrol Perkara Iman (Ngopi) ini bukan hanya sekadar minum teh dan kopi. Para jemaah memanfaatkannya sebagai wadah berbagi pengalaman, mempererat ukhuwah, dan berdiskusi ringan tentang hal-hal keimanan, kehidupan sehari-hari, bahkan solusi terhadap persoalan sosial dalam perspektif Islam.
Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana dakwah dan syiar Islam bisa dikemas dengan pendekatan yang santai namun tetap bermakna. Kehadiran PAI juga menjadi bukti dukungan pemerintah dalam membina masyarakat melalui pendekatan kekeluargaan.
Fasilitas Nyaman, Syiar Meningkat
Kehadiran fasilitas tambahan seperti AC, kanopi luar masjid, meja dan kursi, serta minuman gratis setelah Magrib terbukti membawa dampak signifikan. Jamaah tak hanya datang untuk shalat, namun juga bertahan hingga Isya, mempererat silaturahim, dan menambah pengetahuan keislaman secara tidak langsung.
Masjid kini tak hanya menjadi tempat ibadah wajib, tapi juga sebagai pusat pembinaan umat yang ramah dan terbuka untuk segala usia.
Harapan ke Depannya:
Ke depan, Masjid Al-Hidayah diharapkan bisa menjadi model masjid ramah jemaah di tingkat kecamatan bahkan kabupaten. Dengan mengedepankan kenyamanan fisik dan pendekatan sosial, masjid bisa menjadi magnet kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Diharapkan juga kegiatan seperti Ngopi Perkara Iman ini bisa dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan menghadirkan pembicara ringan, dialog bersama tokoh masyarakat, bahkan kajian tematik dengan kemasan santai namun mendalam.
PAI Singingi Hilir juga menyampaikan komitmen untuk terus mendorong kolaborasi antara masjid, tokoh agama, dan pemerintah kecamatan agar kegiatan seperti ini bisa menyebar ke masjid-masjid lainnya.
“Kita harap, masjid bukan hanya ramai saat Ramadan saja, tapi sepanjang tahun. Dan ini bisa tercapai kalau masjid ramah, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan jemaah masa kini,” pungkas Mahyu Budiman.
Akhir kata, Masjid Al-Hidayah menunjukkan bahwa inovasi kecil seperti tempat duduk nyaman, teh hangat, dan obrolan ringan bisa membawa dampak besar bagi peningkatan kualitas iman dan kebersamaan umat. Sebuah contoh nyata bahwa syiar Islam tak harus selalu formal, tapi bisa menyentuh hati lewat hal-hal sederhana dan bermakna.(MB)