0 menit baca 0 %

Dari Dapur ke Ruang Belajar: Keteguhan Guru PDTA Darul Wasiah Pertahankan Pendidikan

Ringkasan: Kampar ( Kemenag )---Di tengah keterbatasan sarana, para guru Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDTA) Darul Wasiah di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, tetap menyalakan api pendidikan. Meski bangunan madrasah mereka kini dijadikan dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG), kegiatan belajar...

Kampar ( Kemenag )---Di tengah keterbatasan sarana, para guru Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (PDTA) Darul Wasiah di Desa Kualu Nenas, Kecamatan Tambang, tetap menyalakan api pendidikan. Meski bangunan madrasah mereka kini dijadikan dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG), kegiatan belajar mengajar tidak berhenti berpindah ke rumah para guru, dengan semangat yang tak pernah padam.

Isu bahwa PDTA Darul Wasiah telah tutup selama satu tahun ditepis langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar, H. Fuadi Ahmad, S.H., M.A.B., dalam rapat koordinasi yang digelar, Selasa (7/10/2025), di ruang kerjanya.

 “Proses belajar tetap berjalan, walaupun sementara waktu dilakukan di rumah guru. Artinya, madrasah ini belum tutup,” tegas Fuadi Ahmad, didampingi Kasi PD Pontren H. Maswir, M.A.

Rapat tersebut juga dihadiri oleh Pj. Kepala Desa Kualu Nenas Idrus Maarif, Ketua FKDT Kabupaten Kampar Samsul Hidayat, Ketua MK2MDT Mukhlis, Kadus Sungai Putih Aziz Abdullah, Kepala MDTA Darul Wasiah Zakaria, para guru, dan staf PD Pontren Kemenag Kampar

Menurut data Kemenag Kampar, PDTA Darul Wasiah masih memiliki 14 santri aktif, dengan proses belajar yang kini dilakukan di rumah para guru. Meski serba terbatas, para pendidik berusaha memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan agama.

“Kami tetap mengajar. Walau di rumah, yang penting anak-anak tetap belajar mengaji,” ujar salah seorang guru dengan mata berkaca-kaca.

Kepala MDTA Darul Wasiah, Zakaria, menyampaikan bahwa pihaknya tidak pernah menyetujui alih fungsi bangunan madrasah menjadi dapur MBG, namun tetap berusaha mencari solusi terbaik agar kegiatan belajar tidak terhenti.

“Kami sempat ditawari ruko tiga pintu sebagai tempat belajar, tapi tidak cukup. Akhirnya guru-guru mengajar di rumah masing-masing agar anak-anak tetap sekolah,” ungkapnya

Dalam rapat, Pj. Kepala Desa Kualu Nenas Idrus Maarif mengakui baru mengetahui bangunan PDTA dijadikan dapur setelah berita viral.

“Kami baru tahu setelah ramai di media. Padahal, bangunan itu aset desa dari PNPM Mandiri. Seharusnya, sebelum dialihfungsikan, ada koordinasi,” ujarnya.

Sementara Kadus Sungai Putih Aziz Abdullah menegaskan bahwa proses belajar memang masih berjalan, meski tidak maksimal.

“Ado belajar, tapi tak maksimal,” katanya singkat

Kepala Kemenag Kampar, Fuadi Ahmad, menegaskan bahwa pendirian dan penutupan PDTA harus melalui mekanisme resmi, karena lembaga tersebut bernaung di bawah binaan Kementerian Agama.

“Kalau mau dijadikan dapur MBG, seharusnya penutupan dilakukan secara resmi. Jangan sampai lembaga masih aktif, tapi bangunannya sudah berubah fungsi,” tegasnya.

“Kita tidak ingin kejadian seperti ini berulang  viral dulu, baru diurus administrasinya,” sambungnya.

Ketua FKDT Kabupaten Kampar, Samsul Hidayat, turut mendesak agar segera disediakan tempat belajar baru bagi para santri PDTA Darul Wasiah.

 “Jangan biarkan guru dan murid menunggu. Sudah tiga bulan mereka belajar berpindah-pindah. Kami minta besok sudah ada tempat yang bisa dipakai,” ujarnya

Meski tanpa ruang kelas, para guru PDTA Darul Wasiah tetap setia mendidik. Mereka percaya, pendidikan bukan soal gedung megah, tapi tentang ketulusan mengajar dan semangat menanam ilmu.

 “Ada murid yang bilang, ‘Untuk apa sekolah, sekolah kita sudah tak ada, Pak.’ Tapi kami jawab, sekolah itu bukan gedung, tapi hati kita yang mau belajar,” ujar salah satu guru lirih.

Kemenag Kampar berharap seluruh pihak  pemerintah desa, yayasan, dan masyarakat  segera bermusyawarah mencari solusi terbaik, agar pendidikan agama di Desa Kualu Nenas tetap berjalan dengan baik dan penuh keberkahan.

 “Yang paling penting, jangan padamkan semangat guru dan santri. Karena dari ruang sederhana pun, cahaya ilmu bisa tetap bersinar,” tutup Fuadi Ahmad.