0 menit baca 0 %

Dari Pesantren ke IPDN: Rasya Cantika Sabri Raih Peringkat Pertama

Ringkasan: Bangkinang (Kemenag) Prestasi membanggakan kembali hadir dari Kabupaten Kampar. Rasya Cantika Sabri, alumni Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang angkatan 2025, berhasil meraih peringkat pertama kelulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) 2025 untuk Provinsi Ria...

Bangkinang (Kemenag) — Prestasi membanggakan kembali hadir dari Kabupaten Kampar. Rasya Cantika Sabri, alumni Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang angkatan 2025, berhasil meraih peringkat pertama kelulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) 2025 untuk Provinsi Riau.

Nama Rasya tercantum di urutan teratas dalam Keputusan Rektor IPDN Nomor 800.1.2.2-406 Tahun 2025, tertanggal 16 September 2025, yang mengumumkan 25 calon praja IPDN asal Riau. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa lulusan pesantren mampu bersaing secara nasional, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga di jalur akademik dan kepemimpinan pemerintahan.

Kebahagiaan dan rasa syukur mengiringi capaian ini. H. Sabri, ayah Rasya, mengaku haru dan bangga atas pencapaian putrinya.

“Alhamdulillah, ini anugerah yang luar biasa. Kami bersyukur atas hasil ini. Semoga Rasya bisa menjaga amanah, menjadi praja yang berintegritas, dan kelak mengabdi untuk bangsa dan daerah,” ujarnya penuh haru.

Sementara itu, Nely Yusra, Kepala Madrasah Aliyah PP Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Rasya.

“Ini bukti bahwa pendidikan pesantren tidak hanya melahirkan generasi yang kuat secara spiritual, tetapi juga siap bersaing dalam dunia akademik dan pemerintahan. Semoga keberhasilan Rasya memotivasi santri lainnya untuk bercita-cita tinggi dan berani berkompetisi di tingkat nasional,” ungkapnya.

Dengan lolosnya Rasya Cantika Sabri ke IPDN, perjalanan barunya sebagai Calon Praja IPDN akan segera dimulai. Prestasi ini menjadi kebanggaan bukan hanya bagi Rasya dan keluarganya, tetapi juga bagi pesantren, dunia pendidikan, serta masyarakat Kabupaten Kampar secara keseluruhan.


(Kontributor: Fatmi)