0 menit baca 0 %

Dari Sunyi ke Harapan: Penyuluh Katolik Hadirkan Kasih di Lapas II B”

Ringkasan: Kuansing ( Kemenag ) Teluk Kuantan, 7 Agustus 2025 Dalam rangka pelayanan pembinaan rohani kepada umat Katolik, Pakrin Manalu, S.Pd, selaku Penyuluh Agama Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi, melaksanakan penyuluhan rohani kepada narapidana Katolik di Lapas Kelas II B Te...

Kuansing ( Kemenag ) Teluk Kuantan, 7 Agustus 2025 – Dalam rangka pelayanan pembinaan rohani kepada umat Katolik, Pakrin Manalu, S.Pd, selaku Penyuluh Agama Katolik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi, melaksanakan penyuluhan rohani kepada narapidana Katolik di Lapas Kelas II B Teluk Kuantan. Yang hadir di sana Ketua Satgas Pembinaan Yaitu Bapak Partumbul Pandiangan.

Kegiatan ini ditujukan kepada tiga orang warga binaan pemasyarakatan yang beragama Katolik, yang dengan antusias dan penuh keharuan mengikuti sesi penyuluhan. Dalam bimbingan ini, Pakrin menyampaikan pesan-pesan iman, pertobatan, dan pengharapan dalam kasih Allah, dengan mengambil inspirasi dari Injil Lukas 15:11–32 tentang perumpamaan anak yang hilang.

Yang sangat menyentuh adalah pengakuan para narapidana bahwa selama ini belum pernah ada penyuluh agama Katolik yang datang memberikan bimbingan kerohanian kepada mereka. Kunjungan ini menjadi momen yang sangat berarti dan emosional. Dalam suasana reflektif dan doa, para narapidana meneteskan air mata, mengenang kesalahan yang telah dilakukan dan dampaknya terhadap keluarga mereka.

"Kami merasa sangat rindu keluarga... Kami menyesal, dan berharap bisa memperbaiki hidup kami," tutur salah satu warga binaan dengan mata berkaca-kaca.

Mereka pun menyampaikan harapan agar bimbingan rohani ini dapat terus berlanjut secara rutin, karena sangat membantu mereka dalam proses pertobatan, pemulihan batin, dan membangun kembali semangat hidup dalam terang iman Katolik.

Pakrin Manalu dalam pesannya menyampaikan, “Allah tidak pernah menutup pintu pengampunan bagi siapa pun. Bahkan di balik jeruji ini, kasih-Nya tetap bekerja. Yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.”

Kegiatan ini menjadi langkah awal pelayanan rohani Katolik yang lebih intensif di Lapas Teluk Kuantan, serta menjadi panggilan nyata bagi Gereja untuk terus menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih, termasuk kepada mereka yang sedang menjalani masa pembinaan hukum. ( PM )