0 menit baca 0 %

Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Kampar Ikuti Peringatan Isra Mi raj Secara Virtual

Ringkasan: Kampar ( Inmas), Pengurus Dharma Wanita Persatuan ( DWP)  Kemenag Kampar  mengikuti peringatan Isra Mi raj Nabi Muhammad SAW 1442 H yang diselenggarakan DWP Kemenag RI secara Virtual zoom meeting Jum at 19 /3/2021.Peringatan Isra Mi raj kali ini mengangkat tema : Peristiwa Isra Mi raj sebagai motiva...

Kampar ( Inmas), Pengurus Dharma Wanita Persatuan ( DWP)  Kemenag Kampar  mengikuti peringatan Isra Mi raj Nabi Muhammad SAW 1442 H yang diselenggarakan DWP Kemenag RI secara Virtual zoom meeting Jum at 19 /3/2021.

Peringatan Isra Mi raj kali ini mengangkat tema : Peristiwa Isra Mi raj sebagai motivasi dalam Membangun Moderasi Beragama   bersama Prof. DR M. Quraish Shihab, yang di hadiri oleh Wakil Ketua I Ny. Fitri Nely Fuadi Ahmad  beserta 5  pengurus DWP Kemenag Kampar, dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan : Memakai masker, Mencuci tangan, menjaga jarak  yang  dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama Kab. kampar

Kegiatan ini ini di hadiri oleh Penasehat DWP Kemenag RI Hj. Eny. Retno Yaqut, Ketua DWP Kemenag RI Farikhah Nizal Ali, serta wakil Ketua Penasehat DWP Kemenag RI Halimah Zainut Tauhid  serta Ketua dan segenap Pengurus dan anggota  DWP Kemenag baik di tingkat pusat, Kanwil, Kab/Kota dan PTKAIN se Indonesia
Dalam Sambutan Ketua Penasehat DWP Kemenag RI Hj. Eni Retno Yaqut mengatakan, Isra Mi raj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa penting sebagai perjalanan spritual Nabi Muhammad SAW sebagi utusan Allah dan bukan perjalanan biasa tentunya  tapi perjalanan  yang dilakukan manusia istimewa.

Isra mi raj merupakan perjalanan sarat makna tentang lika liku perjalanan manusia. Menurut saya itu adalah dimensi intelektualitas yang dialami Nabi Muhammad SAW menerima risalah shalat lima waktu yang menjadi kewajiban bagi umat islam dengan misi menyempurnakan akhlak ujar Eny Retno Yakut.

Prof.Dr. M. Quraish Shihab, MA. sebagai nara sumber menguraikan bagaimana pemahaman moderasi beragama  benar-benar digalakkan. Menurutnya,  moderasi beragama  meliputi dua pokok yakni  bagaimana memahami agama dan bagaimana beragama. Agama murni datangnya dari Allah SWT. Akan tetapi implikasi dari ragam pemahaman terhadap agamalah yang kemudian memicu munculnya perbedaan pada tataran sikap beragama.

Jika ditarik benang merahnya, maka ada dua poros sikap beragama yang dua-duanya bisa ekstrim.  Dari sinilah dibutuhkan poros tengah dalam sikap atau perilaku beragama,  yang dalam tataran konsep diistilahkan moderasi beragama (Islam Washatiyyah).

Ditambahkannya, Islam washatiyyah bukan mengebiri agama akan tetapi berusaha beragama sesuai dengan proporsinya. Tidak terlalu ekstrim. Sikap moderasi beragama berprinsip keadilan, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ungkapnya                ( Ags/Usm/Ftm )