0 menit baca 0 %

Dirham : Kakan Kemenag Kampar Instruksikan Tindak Lanjut Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa

Ringkasan: Kampar (Kemenag) Dalam amanat apel pagi ini Senin (14/4/2025) di Ruang Terbuka Kemenag Kampar, Kasubbag TU Dirhamsyah sampaikan instruksi dari Kepala Kantor Kemenag Kampar Fuadi Ahmad. Menindaklanjuti Surat Edaran dari Sekjen Kemenag RI Nomor 182 Tahun 2025 Tentang Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Mat...

Kampar (Kemenag) – Dalam amanat apel pagi ini Senin (14/4/2025) di Ruang Terbuka Kemenag Kampar, Kasubbag TU Dirhamsyah sampaikan instruksi dari Kepala Kantor Kemenag Kampar Fuadi Ahmad. Menindaklanjuti Surat Edaran dari Sekjen Kemenag RI Nomor 182 Tahun 2025 Tentang Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa, Kemenag Kampar akan turut andil.

“Pak Kakan sudah menginstruksikan kita seluruh pegawai di Kementerian Agama Kampar untuk ikut serta menghijaukan bumi kita. Apakah tiap pegawai membawa 1 atau 2 bibit matoa, nanti akan diinformasikan lebih lanjut,” ucap Dirham.

Seperti yang kita ketahui, pelestarian lingkungan sudah menjadi program rutinitas baik di Lembaga pemerintah maupun swasta dan organisasi-organisasi. Penghijauan lingkungan dirasa penting mengingat alam adalah tempat manusia bernaung. Program Ekoteologi dari Menteri Agama ini bertujuan meningkatkan kesadaran ekologis namun tetap berbasis nilai agama.

Berdasarkan TOR (Term Of Reference) Program Ekoteologi Gerakan Penanaman 1 Juta Matoa, Pohon Matoa dipilih karena merupakan Pohon endemic Indonesia yang berasal dari Papua, yang memiliki nilai ekologis dan sosial yang tinggi. Pohon matoa dikenal sebagai spesies yang adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, tumbuh kuat dan rindang, serta menghasilkan buah yang kaya akan manfaat kesehatan. Selain itu, pohon ini juga memiliki nilai budaya yang kuat (konstruksi rumah adat) di beberapa daerah di Indonesia, sehingga dapat menjadi media yang efektif dalam menyebarluaskan pesan konservasi berbasis kearifan lokal.

“Seperti yang kita ketahui, di Riau ini tumbuhannya masih di dominasi oleh pohon sawit. Pohon sawit memiliki sifat menyerap air sehingga memicu kerusakan-kerusakan habitat di sekitarnya. Oleh karena itu, program penanaman pohon matoa ini akan kita sampaikan kepada satker dibawah Kemenag Kampar hingga ke masjid-masjid dan Pesantren” tambah Dirham.

Semoga gerakan ini dapat menjadi model upaya keberlanjutan lingkungan berbasis partisipasi umat beragama di Indonesia.

(Cicy/Fatmi)