Kampar (Kemenag) - Masjid bukan hanya tempat ibadah semata, melainkan juga pusat peradaban, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Hal ini ditekankan oleh Dr. H. M. Fakhri saat menyampaikan materi dalam Workshop Manajemen Masjid Percontohan yang digelar oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau di Kabupaten Kampar di Hotel Altha, Rabu, 25/6/2025
Dalam paparannya, Dr. Fakhri menyampaikan pentingnya pengelolaan masjid secara profesional, transparan, dan amanah, agar masjid mampu menjawab kebutuhan umat di era modern ini.
“Masjid harus dikelola dengan manajemen yang baik, bukan sekadar asal jalan. Harus ada perencanaan, evaluasi, serta keterbukaan kepada jamaah. Semua ini adalah bentuk amanah yang besar,” tegas Dr. Fakhri di hadapan para peserta workshop.
Menurut Dr. Fakhri, paradigma lama yang memandang masjid hanya sebagai tempat shalat harus diperluas. Masjid harus menjadi pusat layanan sosial dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya struktur organisasi takmir yang jelas dan aktif. Pengurus masjid, lanjutnya, harus memiliki pembagian tugas yang terukur, mulai dari bidang ibadah, sosial, pendidikan, hingga keuangan.
Salah satu aspek penting dalam manajemen masjid adalah transparansi keuangan. Dr. Fakhri mendorong agar laporan keuangan masjid disampaikan secara terbuka, baik melalui papan informasi di masjid maupun kanal digital seperti media sosial.
> “Kepercayaan jamaah adalah modal utama masjid. Jangan sampai ada celah ketidakpercayaan karena kurangnya transparansi,” ujarnya. (Fatmi/Cicy)