DR. MAWARDI SALEH, LC, MA. Pendidikan Karakter!! Ada di Madrasah dan Pondok Pesantren
Ringkasan:
Pekanbaru (HUMAS). Pembangunan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah pendidikan madrasah dan pondok pesantren, hal ini ditandai dengan pola pembelajaran dan model pembelajaran yang mengutamakan pendidikan ketauhidan dan akhlakul karimah, di pondok pesantren diajarkan ketulusan dan keikh...
Pekanbaru (HUMAS). Pembangunan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah pendidikan madrasah dan pondok pesantren, hal ini ditandai dengan pola pembelajaran dan model pembelajaran yang mengutamakan pendidikan ketauhidan dan akhlakul karimah, di pondok pesantren diajarkan ketulusan dan keikhlasan dalam menuntut ilmu bagi para santri dan memberikan ilmu bagi Ustadz/zahnya, kenapa saya katakan demikian, karena dari dahulu pondok pesantren mengajarkan pola pendidikan yang cirinya adalah Masjid, artinya dari awal ditanamkan kepada santri bagaimana mendirikan sholat bukan hanya mengerjakan shalat, tegakkan sholat karena dengan menegakkan sholat akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar, ujar DR.Mawardi Saleh, LC, MA, Ketua MUI Kampar dan Dosen UIN Suska Riau serta praktisi pendidikan Riau dihadapan Direktur Pontren Kemenag RI “H.A. Saipuddin”, Gubernur Riau yang diwakili Kabag Kesra “ Drs, Ansari Kadir”, Ka.Kanwil Kemenag Riau “Drs. H. Tarmizi, MA”, Bupati Kampar, Ka.Kankemenag Kampar dan Pejabat Daerah lainnya pada acara Tasyakuran dan Peresmian Pondok Pesantren As-Salam Naga Beralih Kec.Kampar Utara, Kab.Kampar beberapa waktu yang lalu.
Lanjutnya, ada 4 kecerdasan yang dituju dalam pendidikan atau standar keberhasilan pendidikan, yaitu; 1. Cerdas secara spiritual, jika tidak cerdas spiritual maka akan gagal, 2. Kecerdasan intelektual, penguasaan ilmu yang melahirkan menusia yang empati, punya rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, 3. Kecerdasan emosional, jika tidak cerdas emosional maka tidak akan mau mengerti dengan orang lain atau egois, 4. Serdas estetika (hikmah) pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, bukan cerdas seni sebagaimana yang di gembor-gemborkan seperti menyanyi, melukis dan lain sebagainya, bahkan ada ucapan yang mengatakan jika pemimpin menguasai estetika seperti yang digembor-gemborkan tersebut maka dia sudah pantas jadi pemimpin dan pendidikan kita sudah berhasil, jika pemimpin sudah menguasai 4 kecerdasan diatas maka pendidikan kita akan berhasil.
Dalam Al-Qur’an telah diceritakan tentang bagaimana mencetak anak yang sholeh seperti Nabi Ibrahim, Nabi Adam juga meminta anak yang sholeh dan menjadi hamba yang bersyukur, cara pendidikan Ibrahim adalah pesantren, dengan menarok puteranya ke Ka’bah untuk menempa kecerdasan diatas, sehingga Ismail dan Siti Hajar walaupun ditinggal bertahun-tahun karena sudah cerdas spiritualnya, cerdas intelektual,cerdas emosional, dan cerdas estetika yang menanyakan kepada Ibrahim tentang perintah siapa mereka di hantar ke Ka’bah, dan Ibrahim menjawab atas perintah Allah maka Siti Hajar bisa menerimanya dan dia yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka, maka mereka menjalani tarbiyyah tersebut yang hasilnya sampai sekarang banyak dikunjungi oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.
Islam tidak membedakan ilmu pengetahuan, tidak ada beda ilmu umum dengan ilmu agama, sumber semua ilmu tersebut dari Allah SWT, dan guna mempelajari semua ilmu tersebut adalah bagaimana membuat orang tunduk kepada Allah SWT, seperti mempelajari Biologi, Fisika, Kimia dan lain sebagainya mengisyaratkan bagi si penuntut ilmu agar menyadari proses pertumbuhan sel-sel makhluk hidup, molekul-molekul dan lain sebagainya untuk menyandarkannya kepada Allah sebagai pencipta semuanya, dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu, Allahlah yang Maha merajai, maha kuat, maha luas ilmunya dan maha besar, oleh sebab itu jadikanlah semua ilmu pengetahuan untuk mendekatkan diri dan mentaati Allah SWT dengan sebenar-benar dan sesadar-sadarnya,pungkas Mawardi.(AZ)