0 menit baca 0 %

Drs H Asyari Nur SH MM: Wujudkan Kebersamaan Melalui Ibadah Haji dan Qurban

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, mengatakan, kesatuan dan kebersamaan umat Islam akan terwujud apabila kita, di samping mampu menangkap makna ibadah haji, juga mampu menangkap makna ibadah qurban secara bersamaan dan kita re...
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, mengatakan, kesatuan dan kebersamaan umat Islam akan terwujud apabila kita, di samping mampu menangkap makna ibadah haji, juga mampu menangkap makna ibadah qurban secara bersamaan dan kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersatukan umat Islam memang tugas besar dan berat oleh karena itu membutuhkan pengorbanan yang besar dan berat pula. Ibadah Haji adalah ibadah fisik yang merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan diwajibkan bagi setiap muslim yang mampu, baik secara jasmani, rohani dan materi. Adanya kewajiban yang mengikat atas haji tersebut, membuat umat Islam berusaha untuk dapat melakukan ibadah haji dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Usaha yang cukup kuat tersebut dilakukan hanya semata-mata untuk mencari ridho dari Allah SWT dan sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan kepada perintah Allah SWT. Ibadah qurban adalah ibadah yang disunnahkan bagi setiap muslim yang memiliki kelonggaran rezeki dalam bentuk menyembelih binatang qurban, yang selanjutnya, selain dimakan sebagiannya, dibagikan kepada umat disekelilingnya, terutama mereka yang sangat memerlukan, yaitu kaum dhuafa dan fakir miskin. Nikmat yang banyak yang telah diberikan Allah kepada kita jangan sampai membuat kita lupa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, sebagaimana diketahui ibadah qurban ini bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya semata wayang Nabi Ismail as. Diriwayatkan bahwa kehidupan Nabi Ibrahim merupakan kehidupan yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan dan perang melawan kebodohan kaumnya. Kefanatikan penyembah berhala termasuk ayahnya sendiri, dan begitu pula penindasan dari raja Namrudz. Pengorbanan tersebut seakan tiada henti diterima Nabi Ibrahim ketika Allah mengaruniainya dengan seorang putra, Ismail, dan diuji oleh Allah untuk menyembelih anaknya tersebut. Ismail buah hati dambaan Ibrahim. Namun tanpa diduga, Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, harapan dan dambaan hidupnya yang paling dicintai itu. Betapa goncang jiwa Ibrahim ketika menerima perintah ini. Setelah perintah itu ia sampaikan kepada anaknya dan anaknya menerimanya, akhirnya kedua hamba Allah ini pasrah melaksanakan perintah Allah ini. Allah menggambarkan peristiwa yang sangat dramatis ini dengan firman-Nya yang artinya, Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". "Kemudian Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar dan inilah yang diabadikan dengan syari`at qurban hingga saat ini," ucanp Asyari. Ia menambahkan, pengorbanan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, merupakan teladan bagi kita akan wujud kecintaan dan ketaatan yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Karena itu, jika kaum Muslim ingin mewujudkan kecintaan dan ketaatan yang sebenarnya kepada Allah SWT, maka perlu siap untuk berkorban. "Berkorban dalam hal ini, tentu tidak sekadar menyembelih hewan korban saja, tapi berkorban dalam arti yang luas," tutupnya. (msd)