Mandau (Kemenag) – Suasana penuh haru menyelimuti Aula KUA Mandau pada Jumat (26/9/2025), ketika keluarga besar KUA Mandau melepas dua mahasiswa magang PGRI Sumatera Barat, Dwi Mawaddah dan Anggella Puspita Sari, yang telah menyelesaikan masa pengabdian magang selama dua bulan di kantor tersebut.
Dalam sambutannya, Kepala KUA Mandau menyampaikan apresiasi
dan terima kasih yang mendalam kepada kedua mahasiswa. Dengan suara bergetar
dan nada penuh kesedihan, beliau menyatakan bahwa pelepasan ini bukanlah sebuah
perpisahan sejati.
“Kami tidak bisa mengucapkan kata perpisahan, karena kami merasa sebenarnya kita tidak pernah berpisah. Hanya jarak dan waktu yang mungkin memisahkan, namun hati kita tetap menyatu dalam kenangan-kenangan indah yang sudah kita lalui bersama di KUA Mandau,” tutur beliau sambil menahan air mata.
Suasana semakin haru ketika giliran Dwi Mawaddah
menyampaikan sambutannya. Dengan deraian air mata, ia mengucapkan terima kasih
atas semua bimbingan, ilmu, serta pengalaman berharga yang ia dan Anggella
dapatkan selama magang.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga besar KUA Mandau. Dua bulan di sini bukan hanya memberi kami ilmu, tetapi juga memberi kami keluarga baru. Rasanya berat sekali harus berpisah. Semoga silaturahmi ini tidak pernah terputus,” ujar Dwi dengan penuh haru, seolah-olah tidak rela melepas kebersamaan yang telah terjalin.
Tak kalah menyentuh, Anggella Puspita Sari juga menyampaikan kesan dan pesannya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Selama magang di KUA Mandau, kami mendapatkan bimbingan yang tulus, suasana kekeluargaan, dan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Terima kasih atas segala perhatian dan kesempatan yang diberikan. Kami berharap kelak bisa membawa kebaikan dari ilmu yang kami dapatkan di sini.”
Acara pelepasan ini kemudian ditutup dengan pertukaran
cenderamata sebagai simbol kenangan dan penghargaan. Pertukaran ini menjadi
tanda eratnya ikatan antara mahasiswa magang dengan keluarga besar KUA Mandau,
sekaligus penegasan bahwa meski berpisah secara fisik, namun hati tetap terikat
dalam persaudaraan.