0 menit baca 0 %

Duka yang Menyatukan: MAN 2 Kepulauan Meranti Gelar Shalat Ghaib dan Doa Bersama untuk Korban Bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar

Ringkasan: Meranti(Kemenag)- Sebagai wujud kepedulian yang tulus dan respons cepat atas Instruksi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti Nomor 1296/Kk.04/1/KP.01.2/12/2025 tentang Himbauan Pelaksanaan Doa Bersama Lintas Agama dan Shalat Ghaib, MAN 2 Kepulauan Meranti melaksanakan Shalat Gh...

Meranti(Kemenag)- Sebagai wujud kepedulian yang tulus dan respons cepat atas Instruksi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti Nomor 1296/Kk.04/1/KP.01.2/12/2025 tentang Himbauan Pelaksanaan Doa Bersama Lintas Agama dan Shalat Ghaib, MAN 2 Kepulauan Meranti melaksanakan Shalat Ghaib pada Jumat, 12 Desember 2025, bertempat di Masjid Daarul Muttaqin Sidomulyo.

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk solidaritas mendalam terhadap saudara-saudara yang tertimpa musibah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—daerah yang dalam beberapa hari terakhir mengalami bencana alam yang menelan korban jiwa, merusak infrastruktur, dan meninggalkan luka sosial yang tidak sedikit.

Sejak pukul 08.00 WIB, para guru dan siswa telah memadati masjid dengan suasana yang hening dan penuh haru. Sebelum pelaksanaan, seluruh jamaah mendapatkan pengarahan yang disampaikan dengan nada lembut namun sarat ketegasan, mengajak semua yang hadir untuk menjadikan momentum ini sebagai pelajaran batin yang mendalam. Pengarahan tersebut bertujuan agar kegiatan tidak hanya menjadi ritual seremonial, tetapi juga pembelajaran moral bahwa setiap musibah menyimpan hikmah dan mengingatkan pentingnya menjaga rasa empati.

“Pelaksanaan Sholat Ghaib ini selain sebagai media belajar pada siswa, juga sebagai bagian dari Ukhuwah Wathoniah, Ukhuwah Basyariah, dan Ukhuwah Diniyah,” ujar Mudasir, S.Pd.I, Koordinator Rumpun Keislaman MAN 2 Kepulauan Meranti sekaligus imam Shalat Ghaib tersebut. Dalam penuturannya, Mudasir juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan panggilan hati untuk memperkuat rasa persatuan, terutama ketika saudara sebangsa sedang berada dalam keadaan berduka.

Shalat Ghaib berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Suasana masjid menjadi sakral ketika doa-doa dipanjatkan dengan suara yang lirih namun menggetarkan hati. Beberapa siswa tampak menitikkan air mata, larut dalam empati yang tulus terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Menurut pengamatan guru yang hadir, momen tersebut menjadi pengalaman spiritual yang membekas bagi banyak siswa, mengajarkan mereka tentang kepedulian sosial yang nyata.

“Kita bersyukur karena kita masih diberikan keselamatan dan kesehatan,” ungkap Sattio Dinata, salah satu siswa yang mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan. Sattio menuturkan bahwa peristiwa ini membuatnya lebih menyadari betapa besar nikmat ketenangan yang selama ini sering diabaikan.

Taufik, salah satu staf pengajar, juga menyampaikan harapannya dengan nada penuh kehangatan dan empati. “Semoga saudara–saudara kita yang terdampak musibah diberikan kesabaran dan ketabahan, serta kekuatan untuk melewati musibah ini,” ujarnya dengan suara bergetar. Taufik juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi penting untuk menanamkan karakter peduli pada generasi muda—bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam sikap dan tindakan.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada siswa dan guru atas partisipasi dalam donasi untuk bencana yang beberapa waktu lalu dilaksanakan. Semoga apa yang diberikan berkah, dan yang tertinggal akan diganti dengan lebih baik,” lanjutnya.

Salah satu peserta lainnya, Ilfayu Laila, seorang siswi kelas XI, menyampaikan dengan penuh haru, “Kegiatan ini membuat saya merasa lebih dekat dengan saudara-saudara kita yang sedang berduka. Rasanya seperti ada ikatan batin yang menyadarkan bahwa kita ini satu bangsa, satu rasa.”

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bahwa duka dapat menjadi jalan bagi persatuan, dan empati adalah bahasa kemanusiaan yang menghubungkan semua hati.

Apapun bentuknya, kepedulian selalu menemukan jalannya. Dan pada pagi itu, di Masjid Daarul Muttaqin, kepedulian itu menjelma dalam doa yang mengalir khusyuk, menguatkan, dan menghubungkan banyak jiwa dalam satu harapan: semoga Indonesia tetap kuat dan saling menjaga.(HMS–DR)