Bengkalis (Kemenag)— Madrasah Tsanawiyah (MTs) YPPI Bengkalis mengirimkan empat orang guru untuk mengikuti kegiatan Diseminasi Pembelajaran Mendalam bagi Guru Pendidikan Agama Islam tingkat MTs se-Kecamatan Bengkalis. Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 4 Oktober 2025, bertempat di SMP Negeri 4 Bengkalis, dan merupakan inisiatif dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/MTs Kecamatan Bengkalis.
Keikutsertaan MTs YPPI Bengkalis dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam bidang keagamaan. Empat guru yang diutus berasal dari rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan dipilih karena memiliki dedikasi tinggi serta pengalaman yang mumpuni dalam dunia pendidikan.
Yang menarik, kegiatan ini turut melibatkan Kepala MTs YPPI Bengkalis, Jumillia, S.Pd, yang tak hanya hadir sebagai peserta, namun juga dipercaya menjadi Master of Ceremony (MC) sekaligus moderator diskusi. Kehadiran langsung pimpinan madrasah dalam kegiatan semacam ini menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung pengembangan profesional para guru.
Dalam sambutannya, Jumillia menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai ruang reflektif bagi para pendidik. Ia berharap para peserta dapat membawa pulang ilmu dan praktik baik yang bisa langsung diterapkan di kelas, sehingga pembelajaran agama Islam menjadi lebih bermakna dan kontekstual bagi siswa.
Diseminasi ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Zulifkar, S.Pd (Guru Penggerak Angkatan 8 dari SMPN 11 Bengkalis) dan Maryana, SE (Fasilitator Pembelajaran Mendalam dari SMPN 4 Bengkalis). Keduanya dikenal aktif dalam pelatihan dan pengembangan guru di tingkat kabupaten. Dalam sesi penyampaian materi, keduanya mengupas tuntas tentang konsep dan praktik Pembelajaran Mendalam (PM), yang saat ini menjadi pendekatan utama dalam pembelajaran transformatif.
Zulifkar menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam (PM) adalah pendekatan yang dirancang untuk mendorong siswa berpikir kritis, merefleksikan pembelajaran, serta mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Dalam pendekatan ini, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, melainkan sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan mereka.
Salah satu bagian penting dari pembelajaran mendalam adalah rumus dasarnya yang terdiri dari tiga prinsip utama: Sadar, Bermakna, dan Gembira. Prinsip sadar menekankan pentingnya kesadaran siswa terhadap proses belajar, bermakna berarti pembelajaran harus relevan dengan konteks kehidupan siswa, dan gembira menunjukkan bahwa proses belajar harus menyenangkan dan memotivasi siswa untuk terus berkembang.
Selain itu, disampaikan pula tiga pengalaman belajar utama dalam PM, yaitu: Memahami, Mengaplikasikan, dan Merefleksikan. Siswa tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks nyata serta merefleksikan makna dari pembelajaran tersebut dalam kehidupan mereka sebagai pribadi maupun bagian dari masyarakat.
Dalam sesi lanjutan, Maryana memaparkan tentang empat kerangka kerja Pembelajaran Mendalam,vyakni:
1. Peran Guru sebagai Fasilitator
2. Lingkungan Belajar yang Inklusif dan Aman,
3. Penggunaan Strategi Pembelajaran Kontekstual, dan
4. Penilaian yang Autentik dan Reflektif.
Ia juga menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam sangat sejalan dengan penguatan 8 dimensi profil pelajar Pancasila, yang meliputi:
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia,
2. Berkebinekaan global,
3. Bergotong royong,
4. Mandiri,
5. Bernalar kritis,
6. Kreatif,
7. Cinta lingkungan, dan
8. Cinta budaya Indonesia.
Selama kegiatan, suasana terlihat hidup dan penuh semangat. Para peserta tidak hanya menyimak, namun juga aktif bertanya, berdiskusi, serta membagikan pengalaman mereka dalam mengajar. Diskusi yang berlangsung menjadi ruang yang produktif bagi guru-guru agama untuk saling belajar dan memperkaya praktik mengajar mereka.
Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong para guru untuk menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam keseharian mengajarnya. Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar teori agama, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai Islam dalam sikap dan perilaku mereka sehari-hari.
Sebagai penutup, MTs YPPI Bengkalis menyatakan akan terus mendukung pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan, workshop, serta partisipasi aktif dalam kegiatan profesional lainnya. Pihak madrasah menargetkan, peningkatan kualitas guru akan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga matang secara spiritual dan moral.