0 menit baca 0 %

Eny Gustinawati, Penyuluh Agama Islam yang Peduli Pendidikan Dasar Warga Binaan Lapas Blok Wanita

Ringkasan: Bengkalis (Kemenag) Senin, 14 Juli 2025. Tidak hanya mengajarkan materi-materi keislaman seperti thaharah, ibadah mahdhah maupun ghoiru mahdhah, Eny Gustinawati, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bengkalis, juga menunjukkan kepedulian besar terhadap warga binaannya, khususnya mereka yang belum mamp...

Bengkalis (Kemenag) – Senin, 14 Juli 2025. Tidak hanya mengajarkan materi-materi keislaman seperti thaharah, ibadah mahdhah maupun ghoiru mahdhah, Eny Gustinawati, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Bengkalis, juga menunjukkan kepedulian besar terhadap warga binaannya, khususnya mereka yang belum mampu membaca dan menulis huruf latin.

Sejak tahun 2011, Eny telah mencurahkan perhatian dan dedikasinya kepada para Warga Binaan Lapas Blok Wanita Bengkalis. Ia menyadari bahwa sebagian dari mereka bukan hanya berjuang memperbaiki diri secara akhlak dan spiritual, tetapi juga menghadapi keterbatasan dalam hal kemampuan dasar membaca dan menulis. Hingga tahun 2025 ini, Eny masih menemukan beberapa warga binaan yang putus sekolah sejak tingkat dasar, bahkan ada yang sama sekali belum mampu membaca dan menulis huruf latin.

Tidak mudah bagi Eny menjalankan tugas kemanusiaan ini, sebab dari sisi usia, para warga binaan yang ia ajarkan bukan lagi usia anak-anak atau remaja. Mayoritas mereka berusia di atas 30 tahun. Di usia tersebut, belajar membaca dan menulis memerlukan kesabaran dan semangat yang luar biasa, baik dari yang mengajar maupun yang diajar. Namun bagi Eny, usia bukanlah penghalang. Ia meyakini, kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri harus selalu terbuka bagi siapa pun, kapan pun, dan di usia berapa pun.

Untuk mendukung upayanya tersebut, Eny rutin mengunjungi mereka dua kali dalam sepekan, yaitu setiap hari Senin dan Jumat. Di sela-sela tugas penyuluhannya, ia tetap menyediakan waktu secara khusus untuk mendampingi para warga binaan belajar membaca dan menulis huruf latin, meskipun secara perlahan dan sederhana.

"Selain membimbing mereka dalam hal ibadah, saya ingin mereka juga memiliki bekal keterampilan dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya, mereka bisa membaca dan menulis dengan baik saat mereka kembali ke masyarakat nanti," ungkap Eny.

Dedikasi yang terus ia lakukan ini sejalan dengan semangat memanusiakan manusia, memberikan harapan baru bagi mereka yang selama ini sering dipandang sebelah mata. Upaya ini juga membuktikan bahwa tugas seorang penyuluh agama tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi juga turut berperan dalam memberdayakan dan memuliakan sesama manusia, termasuk dalam hal pendidikan dasar yang sangat fundamental bagi kehidupan. (EG)