0 menit baca 0 %

ESENSIAL IDUL FITRI 1442 H "SUASANA LEBARAN TAHUN KEDUA COVID19"

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) Tulisan ini merupakan pengamatan dan keadaan yang dirasakan berkenaan dengan keadaan perkembangan tradisi dimana semua umat islam dalam menyambut hari raya idul fitri atau yang sering disebut hari kemenangan. Barangkali tidak terlalu banyak kebiasaan perbedaan tentang menyambut har...

Pekanbaru (Inmas) Tulisan ini merupakan pengamatan dan keadaan yang dirasakan berkenaan dengan keadaan perkembangan tradisi dimana semua umat islam dalam menyambut hari raya idul fitri atau yang sering disebut hari kemenangan. Barangkali tidak terlalu banyak kebiasaan perbedaan tentang menyambut hari raya idul fitri baik itu di daerah pedesaan, perkotaan pada umumya atau di daerah penulis khususnya. Keutamaan Hari Raya Idul Fitri tidak hanya sebuah momentum atas kemenangannya menahan diri dari makan dan minum serta menjauhi dari berbagai pekerjaan yang bisa mencederai pahala puasa. Lebih dari itu, Hari Raya Idul Fitri merupakan suatu hari yang harus dibanggakan, karena pada hari tersebut Allah SWT menjanjikan ampunan bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah shalat Hari Raya Idul Fitri. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad ?, bahwa Nabi bersabda: "Ketika umat Nabi melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dan mereka keluar untuk melaksanakan shalat Idul Fitri", maka Allah berfirman: "Wahai Malaikatku, setiap yang telah bekerja akan mendapatkan upahnya. Dan hamba-hambaku yang telah melaksanakan puasa Ramadhan dan keluar rumah untuk melakukan shalat Idul Fitri, serta memohon upah (dari ibadah) mereka, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah memaafkan mereka. Kemudian ada yang berseru, ‘wahai umat Muhammad, kembalilah ke rumah-rumah kalian, aku telah menggantikan keburukan kalian dengan kebaikan’. Maka Allah SWT berfirman: wahai hamba-hamba-Ku, kalian berpuasa untuk-Ku dan berbuka untuk-Ku, maka tegaklah kalian dengan mendapatkan ampunan-Ku terhadap kalian. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya".

Doa atau Ucapan pada Idul Fitri

Sering kita mendengar ucapkan doa Minal 'Aidin wal-Faizin, perkataan ini mulanya berasal dari seorang pensyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya. Adapun ucapan yang disunahkan adalah Taqabbalallahu minna wa minkum ("Semoga Allah menerima amal kami dan kalian") atau Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik ("Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian dan semoga Allah menyempurnakannya atasmu" dan semisalnya.”) dan semisalnya. 

Aktivitas Mudik

Biasanya, sejak dua pekan sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia pada umumnya, mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya, yang paling utama adalah mudik  atau pulang kampung sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur Nasional, yang diperingati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Salah satu tradisi menjelang Lebaran di Indonesia pada umumnya adalah melakukan aktivitas mudik. Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dua tahun terahir, pemerintah menerbitkan aturan larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pada Lebaran 1442 H ini, larangan mudik ditetapkan sejak 6-17 Mei 2021 melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, yaitu SKB dari Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Selain itu, ada juga pemangkasan cuti bersama Idul Fitri menjadi satu hari dan ditegaskan kembali untuk tidak mudik selama cuti tersebut. Mudik kerap diidentikkan dengan Lebaran. Tradisi ini merupakan aktivitas pulang kampung para perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya yaitu momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan dan sebagainya, yang harus berpisah.

Suasana Salat Idul Fitri

Di pagi Idul Fitri, setelah mandi dan bersih, setiap Muslim didorong untuk menggunakan pakaian baru, apabila mereka bisa mengusahakannya. Sebagai alternatif, mereka boleh menggunakan pakaian yang bersih, yang telah dicuci. Seluruh keluarga pergi ke masjid atau lapangan terbuka. Namun, semua itu akan lebih baik jika diimbangi dengan melaksanakan dan mengutamakan ibadah di bulan Ramadhan. Shalat Id, bersyukur kepada Allah SWT karena diberi kesempatan beribadah pada bulan Ramadan dengan penuh arti. Setiap muslim diwajibkan untuk membayar zakat fitri atau zakat fitrah kepada fakir miskin, sehingga mereka dapat juga turut merayakan hari kemenangan ini. Setelah shalat, setiap muslim saling bertamu dan menyambut satu sama lain termasuk anggota keluarga, anak-anak, orang tua, teman dan tetangga mereka. Sebagian muslim juga berziarah ke makam anggota keluarga mereka untuk berdoa bagi keselamatan almarhum. Biasanya, anak-anak mengunjungi sanak keluarga dan tetangga yang lebih tua untuk meminta maaf dan mengucapkan salam.

Hidangan dan Kebiasaan di Hari Raya Idul Fitri

Biasanya di pagi lebaran, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat, yang memang sangat akrab di Indonesia. Termasuk di daerah penulis, kendati demikian hidangan lainnya juga memeriahkan suasana dimeja makan keluarga. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan THR kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan "halalbihalal", memohon maaf dan keampunan kepada mereka.

Kue Kering dan Mempererat Silaturahim

Alasan ini yang mungkin mendorong banyak individu untuk menyediakan kue kering sebagai salah satu kudapan wajib dalam menjamu para tamu. Dapat disimpan cukup lama di wadah kedap udara, kue kering jadi pilihan kudapan praktis dan hemat biaya. Ya, Lebaran sendiri identik dengan kue kering. Ada begitu banyak jenis kue kering yang dijadikan sebagai kudapan saat  Hari Raya Idul Fitri. Namun, secara umum kue kering selalu berhasil memeriahkan dan menemani momen hangat kita berkumpul bersama keluarga di hari lebaran. Lebaran merupakan momen hangat yang kerap dihabiskan bersama keluarga atau kerabat yang jarang ditemui. Sebab itu mengapa banyak individu menyajikan berbagai hidangan, salah satunya kue kering untuk menjamu para tamu yang datang untuk bersilaturahmi. Adanya kue kering di rumah membuat suasana terasa lebih hangat. Terlebih lagi proses membuat kue dijamin menghadirkan kehangatan tersendiri di antara anggota keluarga. Wallahu a'lam.(nny/rizq)