0 menit baca 0 %

Firdaus, Lc Menjadi Moderator pada Materi Manasik Haji: Kupas Etika dan Budaya Arab Saudi

Ringkasan: Bengkalis Firdaus, Lc., Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Bengkalis, dipercaya menjadi moderator dalam kegiatan Manasik Haji yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Acara ini menghadirkan narasumber H. Rusli, S.Ag., MM., yang saat ini menjabat sebagai Plt.

Bengkalis — Firdaus, Lc., Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Bengkalis, dipercaya menjadi moderator dalam kegiatan Manasik Haji yang digelar oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Acara ini menghadirkan narasumber H. Rusli, S.Ag., MM., yang saat ini menjabat sebagai Plt. Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Bengkalis.
Dalam sesi tersebut, H. Rusli menyampaikan tiga poin penting yang sangat relevan bagi calon jamaah haji, yakni:
1. Etika dan Akhlak Selama Pelaksanaan Ibadah Haji Dalam penyampaiannya, H. Rusli menekankan bahwa haji bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga spiritual yang menuntut kesabaran dan akhlak mulia. Jamaah diimbau untuk menjaga tutur kata, bersikap santun terhadap sesama jamaah, petugas, maupun masyarakat lokal. Akhlak yang baik mencerminkan kesiapan spiritual seseorang dalam menjalani rukun Islam kelima tersebut. Disiplin waktu, tidak mudah tersinggung, serta mampu mengendalikan emosi menjadi bagian penting dari pelaksanaan haji yang mabrur.
2. Etika Berbusana di Arab Saudi Calon jamaah juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya berbusana sopan dan sesuai dengan aturan yang berlaku di Arab Saudi. H. Rusli mengingatkan bahwa Arab Saudi memiliki budaya yang sangat menghargai kesopanan dalam berpakaian. Untuk laki-laki, dianjurkan mengenakan pakaian yang rapi dan tidak terlalu ketat. Sementara itu, perempuan diharapkan mengenakan busana tertutup seperti gamis dan jilbab, serta menghindari warna mencolok. Busana tidak hanya menunjukkan identitas tetapi juga cerminan sikap menghormati tuan rumah.
3. Sosial Budaya Arab Saudi Pada bagian ini, H. Rusli menjelaskan pentingnya pemahaman sosial dan budaya masyarakat Arab Saudi. Jamaah diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma lokal, seperti tidak berbicara terlalu keras, menghormati waktu ibadah, serta memahami perbedaan bahasa dan kebiasaan. Hal ini bertujuan agar jamaah tidak mengalami kesalahpahaman dan mampu menjalin interaksi yang harmonis selama berada di tanah suci.
Dengan kepiawaiannya memandu jalannya diskusi,  Firdaus, Lc. berhasil menghadirkan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme dari para peserta. Ia juga menekankan bahwa memahami aspek etika dan budaya sangat membantu jamaah menjalani ibadah haji dengan khusyuk dan nyaman.
Acara ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan mental, spiritual, dan sosial para jamaah haji Kabupaten Bengkalis agar dapat menunaikan ibadah dengan baik dan kembali membawa predikat haji yang mabrur.