Meranti (kemenag)- Dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis, menyentuh hati, dan menumbuhkan semangat belajar yang mendalam, tenaga pendidik MTsN 2 Kepulauan Meranti mengikuti kegiatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kepulauan Meranti. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa dan Rabu, 5-6 Agustus 2025, dan diikuti oleh seluruh guru dibawah naungan kementerian agama tingkat MTs dan MA se- Kecamatan Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir sebagai bentuk refleksi dan peningkatan kapasitas pendidik dalam menyikapi tuntutan zaman serta kebutuhan spiritual peserta didik.
Kegiatan yang berlangsung di ruang aula MAN 2 Kepulauan Meranti ini dibuka dengan penuh khidmat. Dipandu oleh pengawas madrasah Sri Hartini, acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan Lagu Indonesia Raya.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Panitia sekaligus Plt. Kepala MTsN 2 Kepulauan Meranti Lukman Hakim, yang sekaligus menyampaikan laporan kegiatan. Dalam sambutannya, Lukman menekankan bahwa kegiatan ini merupakan upaya strategis untuk menanamkan nilai-nilai kasih sayang, semangat kolaboratif, dan memperkuat kapasitas guru dalam menerapkan pembelajaran yang mendalam atau deep learning.
“Kegiatan ini kami rancang sebagai bentuk ikhtiar bersama untuk memperluas wawasan, membentuk semangat belajar yang lebih humanis, serta mengokohkan ruh cinta dalam setiap proses pendidikan. Kita ingin madrasah menjadi tempat yang penuh berkah, bukan hanya dari aspek akademik, tapi juga dari sisi kemanusiaan,” ujar Lukman Hakim.
Pada kesempatan tersebut Lukman juga melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh guru KKM MTs/Ma se-kecamatan Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir. Lukman berharap agar kegiatan ini menjadi ladang amal dan mempererat silaturahmi antar pendidik.
Kegiatan ini juga dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Meranti oleh Drs. H. Sulman. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan pokok penting yang menggarisbawahi pentingnya membumikan nilai cinta dalam sistem pendidikan nasional, khususnya di madrasah.
Pengawas Madrasah Sri Hartini, juga menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya mentransfer informasi, tetapi menanamkan rasa ingin tahu, kegigihan belajar, dan keteladanan mencintai ilmu melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Sri Hartini mengangkat pentingnya moderasi beragama sebagai bagian integral dari pendidikan berbasis cinta. Ia mengajak seluruh guru madrasah untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai ruang yang damai, inklusif, dan terbuka bagi perbedaan budaya serta keyakinan.
“Kita harus mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang toleran dan damai. Moderasi bukan sekadar slogan, tapi harus menjadi nilai hidup yang hadir dalam laku sehari-hari,” pesannya.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah bahwa cinta dalam pendidikan harus disertai dengan disiplin. Guru tidak boleh membiarkan pelanggaran terus terjadi atas nama kasih sayang. Disiplin yang dibingkai cinta akan menumbuhkan tanggung jawab dan kepatuhan yang sadar.
“Menegakkan aturan adalah bentuk cinta. Melatih siswa menaati lalu lintas, menghargai waktu, dan menjaga adab adalah ekspresi kasih sayang terhadap masa depan mereka,” jelasnya.
Setelah sesi pembuka, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber yaitu Tiffani, Widiyaswara Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru dengan materi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Madrasah yang berlangsung interaktif dan aplikatif, memberikan ruang eksplorasi bagi guru dalam menyusun strategi dan praktik pembelajaran yang menyentuh sisi afektif siswa.
Kegiatan Implementasi ditutup dengan suasana hangat dan penuh semangat. Para peserta menyampaikan apresiasi atas materi dan suasana kegiatan yang inspiratif. Harapan besar tertanam bahwa melalui kurikulum berbasis cinta dalam pendekatan deep learning, MTsN 2 Kepulauan Meranti akan terus tumbuh menjadi madrasah yang mencetak generasi cerdas secara intelektual dan matang secara spiritual. (N)