0 menit baca 0 %

Guru MTsN 5 Kampar Semakin Siap Jadi Agen Perubahan Pendidikan Berbasis Cinta

Ringkasan: Kampar ( Kemenag ) ---Kegiatan Workshop Penguatan Perangkat Pembelajaran Kurikulum Merdeka melalui Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning di MTsN 5 Kampar resmi ditutup pada Sabtu (11/10/2025)Memasuki hari kedua, suasana belajar para guru semakin penuh semangat.

Kampar ( Kemenag ) ---Kegiatan Workshop Penguatan Perangkat Pembelajaran Kurikulum Merdeka melalui Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning di MTsN 5 Kampar resmi ditutup pada Sabtu (11/10/2025)

Memasuki hari kedua, suasana belajar para guru semakin penuh semangat. Dengan panduan dari narasumber Nefri Leni, SE., S.Pd., M.Pd. dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Padang, para guru mempraktikkan secara langsung bagaimana menyusun dan mempresentasikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan nilai cinta dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Dalam arahannya,  Leni menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan upaya membangun suasana belajar yang ramah, menyenangkan, dan bermakna.

“KBC adalah ikhtiar kita untuk menjadikan madrasah sebagai ruang kasih, tempat peserta didik tumbuh dengan bahagia, penuh penghargaan, dan rasa saling peduli,” ungkapnya.

Antusiasme guru tampak jelas sepanjang kegiatan. Mereka aktif berdiskusi, bertukar ide, dan menampilkan hasil rancangan RPP dengan percaya diri.

Salah satu peserta, Rudi Kiswanto, S.Pd., guru Penjasorkes, mengaku mendapat banyak inspirasi baru.

 “Workshop ini benar-benar membuka wawasan. Banyak hal baru yang bisa kami terapkan agar pembelajaran lebih bermakna bagi anak-anak,” ujarnya dengan semangat.

Kegiatan ditutup dengan ucapan terima kasih dari Ketua Panitia, Arifatul Hidayah, S.Ag., kepada narasumber dan seluruh peserta.

 “Semoga ilmu yang diperoleh selama dua hari ini membawa keberkahan dan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di MTsN 5 Kampar,” tuturnya.

Workshop ini menjadi momentum penting bagi para guru untuk memperkuat peran sebagai agen perubahan pendidikan — pendidik yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan cinta, empati, dan kemanusiaan diruang kelas madrasah.

( Fatmi/ha )