0 menit baca 0 %

Hadiri Pembinaan Da'i Kabupaten Siak, Penyuluh Agama Islam Mempura, Del Fajriati Senang dapat Menambah Ilmu

Ringkasan: Siak (Kemenag) Bertempat di Aula Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUAI) Kabupaten Siak, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mempura, Del Fajriati, menghadiri kegiatan Pembinaan Da'i yang ditaja oleh Komisi Dakwah dan Pegembangan Masyarakat MUI Kabupaten Siak pada Kamis, 21/11/2024.

Siak (Kemenag) Bertempat di Aula Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUAI) Kabupaten Siak, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Mempura, Del Fajriati, menghadiri kegiatan Pembinaan Da'i yang ditaja oleh Komisi Dakwah dan Pegembangan Masyarakat MUI Kabupaten Siak pada Kamis, 21/11/2024. Di antara Penyuluh Mempura yang hadir adalah Del Fajriati,  Sulasmi, Yusuf Supardi, Muhammad Zamri, Turmudi, Ahmad Paisal, dan Ahmad Fadilah.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh 30 orang Penyuluh Agama Islam, yaitu 15 orang dari Kecamatan Siak, 10 orang dari Kecamatan Mempura, dan 5 orang dari Kecamatan Bungaraya. Acara yang dibuka secara resmi oleh ketua umum MUI Kabupaten Siak, Kyai Ahmad Muhaimin ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan dilanjutkan dengan sambutan bagian Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat, Norkholes. Dalam sambutannya, Norkholes menyampaikan bahwa ulama adalah corong informasi di tengah-tengah masyarakat, sehingga seorang da'i mesti meng-update apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Adapun narasumber pada pembinaan ini adalah Abdul Rasyid Suharto dan Saidul Amin. Dalam paparannya Abdul Rasyid menyampaikan 13 hal yang mesti diperhatikan oleh seorang da'i. Empat poin utamanya adalah: pertama, Quwwatush shilah billah (kuat hubungan dengan Allah). Ia mengatakan bahwa seorang da'i mesti memperhatikan hubungannya dengan Allah melalui ibadah kepada-Nya. Ia menjelaskan bahwa seorang Da'i bukan hanya membaca sejuz Al-Qur'an sehari, tetapi ia juga senantiasa mentadabburi maknanya. Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa seorang dari juga mesti berhati-hati terhadap perkara syubhat, karena banyak sekali orang yang tergelincir kepada hal-hal syubhat ini. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah Quwwatush Shilah Binnas (Kuat hubungan dengan manusia), ketiga Si`atul Ufuq (Pengetahuan dan wawasan yang Luas), Keempat Alma'rifatu bil Mad'uwwin (Mengetahui target/ sasaran dakwah).

Sementara itu, Saidul Amin mengatakan bahwa menjadi ulama itu berat, karena yang takut kepada Allah dari hamba-Nya adalah ulama. Ia menjelaskan bahwa seorang ulama mesti sejalan antara perkataan dan perbuatannya, sehingga masyarakat percaya kepada apa yang dikatakannya. "Tahajjud itu adalah untuk mengokohkan jiwa atau kekuatan ruhiyyah, oleh karenanya, jika ada ulama yang tidak melakukan tahajjud, maka berhentilah jadi ulama", tegasnya.

Seorang peserta pembinaan, Del Fajriati mengaku senang mengikuti agenda ini, "Saya merasa senang, karena mendapatkan ilmu yang banyak, di antaranya yaitu kita sebagai seorang da'i mesti melakukan muhasabah diri bagaimana hubungan kita dengan Allah dan bagaimana pula hubungan kita dengan manusia lainnya”, ungkap Del.

Del Fajriati juga mengungkap rasa bahagia bertemu Prof. Saidul Amin. "Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan Prof Saidul Amin salah satu dosen favorit Saya di jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN SUSKA Riau dulu. Dia itu humoris, namun pembahasannya sampai ke tujuan" Ujarnya. (Mz/Fz)