0 menit baca 0 %

Hari Ke-4 Manasik Haji Gabungan KUA Bengkalis dan Bantan: Bahas Praktek manasik Haji dan Kemudahan bagi Lansia

Ringkasan: Hari Ke-4 Manasik Haji Gabungan KUA Bengkalis dan Bantan: Bahas Praktek manasik Haji dan Kemudahan bagi LansiaBengkalis, Selasa, 15 April 2025 Kegiatan manasik haji gabungan antara KUA Kecamatan Bengkalis dan Bantan telah memasuki hari keempat. Pada kesempatan ini, hadir sebagai narasumber utama Ima...

Hari Ke-4 Manasik Haji Gabungan KUA Bengkalis dan Bantan: Bahas Praktek manasik Haji dan Kemudahan bagi Lansia
Bengkalis, Selasa, 15 April 2025 — Kegiatan manasik haji gabungan antara KUA Kecamatan Bengkalis dan Bantan telah memasuki hari keempat. Pada kesempatan ini, hadir sebagai narasumber utama Imam Masjid Agung Istiqomah Bengkalis, H. Ghufronuddin, didampingi oleh moderator Firdaus, Lc, MH. Tema yang diangkat adalah "Praktek Manasik Haji dan Kemudahan bagi Lansia".
Dalam penyampaiannya, H. Ghufronuddin menguraikan secara mendalam tahapan-tahapan penting dalam ibadah haji serta berbagai kemudahan (rukhshah) yang disediakan untuk jamaah lanjut usia. Beberapa poin penting yang dibahas antara lain:
1. Miqat
Miqat adalah batas tempat atau waktu yang telah ditentukan untuk memulai niat ihram. Para jamaah wajib mematuhi miqat sesuai arah kedatangannya menuju Makkah. Di tempat inilah jamaah memulai niat haji dan mengenakan pakaian ihram.
2. Ihram
Ihram adalah kondisi suci yang ditandai dengan niat dan pemakaian pakaian ihram. Bagi laki-laki, pakaian ihram terdiri dari dua lembar kain tanpa jahitan. Sedangkan bagi perempuan, mengenakan pakaian yang menutup aurat tanpa cadar dan sarung tangan.
Setelah berihram, ada sejumlah larangan yang harus dijauhi, baik bagi laki-laki maupun perempuan, antara lain:
a. Memotong kuku atau rambut, baik kuku , rambut sendiri maupun orang lain.
b. Memakai wangi-wangian di badan bukan di pakaian.
c. Berburu atau membunuh binatang darat.
d. Melakukan hubungan suami istri, termasuk segala bentuk rayuan dan ucapan mesra yang mengarah ke hubungan seksual.
e. Melamar, dilamar, menikah atau menikahkan orang lain.
f. Memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, sedangkan perempuan tidak boleh memakai cadar dan sarung tangan.
g. Memakai sepatu yang menutup mata kaki bagi laki-laki.
h. Memakai topi bagi laki-laki.
Larangan-larangan ini dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan dan kesucian diri selama melaksanakan rangkaian ibadah haji.
3. Wuquf, Mabit, dan Melontar Jumrah
Wuquf di Arafah merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan. Jamaah wajib berada di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah, meski hanya sebentar, untuk berzikir dan berdoa.
Mabit adalah bermalam di Muzdalifah dan Mina, yang merupakan bagian dari wajib haji.
Melontar Jumrah dilakukan sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan, dilakukan di tiga tempat: Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
4. Praktek Haji bagi Lansia
Dalam sesi ini, H. Ghufronuddin juga menyampaikan beberapa kemudahan yang diperoleh jamaah lansia:
a. Boleh menggunakan kursi roda atau dibantu saat thawaf dan sa’i.
b. Boleh diwakilkan dalam pelontaran jumrah jika tidak mampu secara fisik.
c. Boleh mengambil waktu mabit yang lebih singkat sesuai kemampuan.
d. Jamaah lansia diimbau menjaga kesehatan, tidak memaksakan diri, dan memperhatikan asupan makanan serta cairan selama berada di tanah suci.
e. Kegiatan manasik hari ini berlangsung lancar dan disambut antusias oleh para calon jamaah haji, yang tampak aktif dalam sesi tanya jawab. Harapannya, bimbingan ini semakin memantapkan kesiapan jamaah baik secara ilmu maupun mental dalam menyambut panggilan Allah ke tanah suci