0 menit baca 0 %

Hindari Pacaran Demi Masa Depan, PAI KUA Mandau Sampaikan Materi Kegiatan Rohis SMAN 9 Mandau

Ringkasan: Mandau (Kemenag) Muhammad Soleh selaku Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Mandau menyampaikan materi tentang hindari pacaran demi masa depan pada acara rohis SMAN 9 Mandau Jumat, 25/07/2025. Kegiatan ini dihadiri oleh 300 orang siswa dan seluruh majelis guru.

Mandau (Kemenag) – Muhammad Soleh selaku Penyuluh Agama Islam KUA Kec. Mandau menyampaikan materi tentang “ hindari pacaran demi masa depan” pada acara rohis SMAN 9 Mandau Jumat, 25/07/2025. Kegiatan ini dihadiri oleh 300 orang siswa dan seluruh majelis guru. Turut hadir dalam kegiatan tersebut yaitu kepala sekolah Kander Nasution. Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan penuh semangat karena ada feedback dari para peserta.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin dari rohis SMA N 9 Mandau setiap hari Jum at. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengisi relung rohani siswa dengan iman dan taqwa sebagai bekal bagi mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang siswa. Dengan kegiatan ini diharapkan iman mereka semakin meningkat , akhlak semakin baik dan ibadah semakin bagus.

“Dalam sesi siang ini materi yang dibahas adalah tentang pacaran. Pacaran menjadi salah satu hal dengan eksistensi yang cukup mahsyur. Bukan lagi sebuah kosa kata asing di telinga penduduk bumi, melainkan telah menjelma sebagai kelaziman bagi manusia dari berbagai jenjang usia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘pacar’ adalah ‘teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kasih’. Sedangkan ‘berpacaran’ yakni ‘bercintaan; berkasih-kasih. Kebudayaan Melayu yang menjadi titik lahirnya istilah tersebut mendefinisikan bahwa pacar merupakan sebuah pewarna kuku yang dulunya acapkali menjadi salah satu adat yang perlu dilakukan ketika seorang pria memiliki ketertarikan terhadap seorang wanita. Pada penerapan adat tersebut, seorang pria yang mengalami ketertarikan terhadap pujaan hatinya akan mendatangi kediaman gadis tersebut dengan membawa tim pembawa pantun. Apabila disambut dan diterima oleh pihak gadis, maka kedua pihak yakni sang lelaki dan sang gadis akan dikenakan pacar (pewarna kuku) di tangannya yang menandakan sedang dalam hubungan. Disaat masa pacar tersebut masih belum luntur dari tangan sang pria, maka ia diharuskan untuk mempersiapkan hubungan yang lebih serius, yakni pernikahan. Jika pada masa dimana pacar tersebut luntur dan sang pemuda ini belum juga datang untuk melamar, maka terberailah hubungan percintaan antara kedua belah pihak” jelas Muhammad Soleh.

"Pacaran memiliki dampak yang negatif antara lain rentan setres dan gampang emosi, sulit berkonsentrasi, produktifitas menurun, semangat menurun dan lainnya. Dalam Islam pacaran dilarang ketika melewati batas-batas syariat. Islam mengajarkan ta aruf sebelum tahap nikah. Taaruf tujuannya adalah untuk saling mengenal dan memahami. Tapi masih tetap dalam bingkai syariat. Seorang pelajar harus mengutamakan tujuan atau cita-citanya, fokus pada tujuan dan jangan pacaran akan memudahkan seseorang mudah mencapai cita-citanya," Pungkas Muhammad Soleh.