Hj Indah : Isra Miraj Proses Pendakian Menggapai Insan Kamil
Ringkasan:
Jakarta (Pinmas)- Isra Miraj merupakan proses pendakian kesempurnaan spiritual mansuia menjadi insan kamil. Insan kamil yang menggambarkan manusia sempurna, sesuai hadits qudsi yang menggambarkan sebagai sosok yang setiap gerak hatinya, mulutnya, tangannya, kakinya selalu dalam bimbingan Allah SWT.
Jakarta (Pinmas)- Isra Miraj merupakan proses pendakian kesempurnaan spiritual mansuia menjadi insan kamil. Insan kamil yang menggambarkan manusia sempurna, sesuai hadits qudsi yang menggambarkan sebagai sosok yang setiap gerak hatinya, mulutnya, tangannya, kakinya selalu dalam bimbingan Allah SWT. Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Hj Indah Suryadharma Ali mengatakan saat pelaksanaan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di rumah dinas Menteri Agama Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, Kamis (29/7). Isra Miraj yang menampilkan penceramah Osman Umar Shihab itu dihadiri sekitar 200 orang.
Menurut Hj Indah, setiap tahun umat Islam selalu mengenang peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. "Setiap tahun itu pula kita berharap dengan mengenang pristiwa istimewa tersebut banyak hikmah yang kita peroleh. Hikmah dapat kita peroleh bila pada setiap memperingati isra Miraj kita dapat menarik pelajaran darinya."
Salah satu hikmah yang kiranya dapat direnungkan, lanjut Hj Indah, adalah bahwa Isra Miraj bukan hanya peristiwa yang menyangkut Nabi Muhammad SAW semata, melainkan terkait dengan peristiwa umatnya, yaitu peristiwa ketentuan shalat lima waktu yang diwajibkan kepada umat Islam.
"Kewajiban shalat langsung diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW tanpa melalui perantara malaikat Jibril. Ini mengisyaratkan bahwa shalat merupakan kewajiban yang sangat penting. Pentingnya shalat adalah ketika dilaksanakan secara benar dapat menjauhkan mausia dari perbuatan keji dan munkar," papar Indah.
Masalah Isra Miraj, kata Hj Indah, sebagian ulama telah menggambarkan bahwa peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Bayt al Maqdis itu merupakan perjalanan manusia di dunia. "Manusia menempuh perjalanan berikutnya, yaitu perjalanan akhirat."
Untuk itu, lanjut Hj Indah, hidup di dunia itu tidak kekal, digambarkan hanya sebatas perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Artinya kehidupan di dunia ini hanya sebentar. Waktu yang sebentar inilah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semua perbuatan tergantung niat. Niat yang ikhlas akan mendapat ganjaran berlipat dari Allah SWT.
Dan yang diharapkan dari makhlukNya adalah bagaimana mendapat ridha Allah SWT. "Manakala kita telah diridhai dan dibimbing Allah, maka tidak ada satu pun makhluk lain yang mampu menyesatkan kita. Kita akan menjadi hamba-Nya terkasih, baik di dunia mupun di akhirat," kata Hj Indah. (dik)