Kota Kendari, Bimas Islam — Sulawesi Tenggara meluncurkan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional 2025 dengan memperkenalkan logo, tema, dan maskot resmi. Peluncuran berlangsung di Kota Kendari, Selasa (9/9/2025), sekaligus menandai kesiapan provinsi ini sebagai tuan rumah ajang nasional tersebut.
Logo STQH Nasional 2025 memuat beragam elemen bermakna. Kubah melambangkan masjid sebagai pusat ibadah, warna emas merepresentasikan keagungan ajaran Islam, sementara Tugu Persatuan Sulawesi Tenggara menjadi simbol kerukunan masyarakat yang hidup dalam keberagaman. Pancaran sinar menggambarkan pencerahan dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis. Mushaf ditampilkan sebagai pedoman hidup, sedangkan tipografi dan angka tahun menegaskan identitas perhelatan. Logo ditutup dengan simbol tangan berdoa, yang menyiratkan harapan atas keselamatan bangsa.
Filosofi dari logo ini berpadu dengan tema besar STQH Nasional 2025, yaitu “Syiar Al-Qur’an dan Hadis Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan.” Tema tersebut menekankan peran kitab suci tidak hanya sebagai pedoman spiritual, tetapi juga sebagai inspirasi dalam menjaga keharmonisan antarumat serta merawat lingkungan.
Tahun ini, STQH Nasional mengusung tema “Syiar Al-Qur’an dan Hadis Merawat Kerukunan, Melestarikan Lingkungan.” Tema tersebut menekankan dua pesan penting: menjaga harmoni antarumat beragama dan merawat alam sebagai bagian dari spiritualitas.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Ahmad Zayadi, menilai, tema besar STQH Nasional tahun ini bukan hanya relevan secara substansi, tetapi juga strategis dalam konteks kebangsaan.
“Ini adalah bagian dari penguatan ekosistem moderasi beragama: menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber inspirasi harmoni antarumat, serta membangkitkan etika keberagamaan yang selalu rukun, ramah, sejuk, dan solutif. Pada saat yang sama, tema ini juga mengingatkan kita bahwa spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari ekologi,” jelas Zayadi.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, Asrun Lio, juga menegaskan bahwa tema tersebut memperkuat peran STQH Nasional sebagai wadah syiar Islam yang ramah lingkungan dan menumbuhkan kesadaran kebangsaan.
“Spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari ekologi. Al-Qur’an mengajarkan tanggung jawab terhadap alam, melarang kerusakan, dan menyeru pada keseimbangan. STQH menjadi momentum dakwah untuk menanamkan kesadaran kolektif mencintai bumi sebagai bagian dari iman. Inilah yang kita sebut gerakan ekoteologi,” ujar Ketua Panitia STQH Nasional 2025 sekaligus Sekda Sulawesi Tenggara, Asrun Lio.
Selain itu, STQH Nasional 2025 juga menghadirkan maskot bernama Ano dan Ani, yang diadaptasi dari hewan endemik Sulawesi Tenggara, yaitu Anoa. Ano menggambarkan Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) berbulu abu gelap, sedangkan Ani melambangkan Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) berwarna cokelat. Kehadiran maskot ini tidak hanya sebagai ikon acara, tetapi juga menyampaikan pesan konservasi agar masyarakat menjaga kelestarian satwa langka khas Sulawesi.
Menurut Asrun Lio, pemilihan tema, logo, dan maskot ini dirancang untuk meneguhkan pesan harmoni, baik antarumat beragama maupun dengan alam. “STQH adalah momentum yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Filosofi di balik tema, logo, dan maskot ini merepresentasikan wajah Sulawesi Tenggara yang ramah, religius, dan peduli lingkungan,” tuturnya.
STQH Nasional 2025 di Kendari diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan tilawah dan hadis, tetapi juga ruang dakwah kebangsaan dan kampanye cinta lingkungan.