0 menit baca 0 %

Isnaini: Menuntut Ilmu Tanpa Kenal Usia

Ringkasan: Kuansing (Kemenag)-Semangat belajar tidak mengenal usia. Hal inilah yang tergambar dalam kegiatan Brantas Buta Aksara Al-Qur an Kelompok Binaan Lansia yang diselenggarakan oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, H.

Kuansing (Kemenag)-Semangat belajar tidak mengenal usia. Hal inilah yang tergambar dalam kegiatan Brantas Buta Aksara Al-Qur’an Kelompok Binaan Lansia yang diselenggarakan oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, H. Isnaini, pada Senin, 28 Juli 2025 bertempat di Mushalla Al-Ikhlas, Desa Beringin Jaya.

Program ini merupakan inisiatif dari Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Singingi Hilir, dengan tujuan utama memberantas buta huruf Al-Qur’an di kalangan orang tua dan lansia, khususnya mereka yang di masa mudanya belum mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.

Para peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, seperti petani, pedagang, buruh pasar, peternak, hingga pekerja kebun. Walaupun memiliki keterbatasan usia dan waktu, antusiasme peserta sangat tinggi untuk mengenal dan membaca huruf-huruf Al-Qur’an.

“Awalnya saya malu, tapi sekarang saya senang karena bisa mengenal huruf hijaiyah,” ungkap Sukarni (50 tahun), salah satu peserta, yang mengikuti kelas rutin dua kali dalam sepekan.

Metode pembelajaran yang digunakan sangat sederhana namun efektif. Beberapa pendekatan yang diterapkan meliputi:

Penggunaan huruf hijaiyah berwarna untuk memudahkan visualisasi,

Latihan makhraj atau pelafalan huruf hijaiyah secara benar,

Praktik membaca surat-surat pendek dalam Al-Qur’an.

Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Ustaz H. Isnaini, S.Ag, Penyuluh Agama Islam dari KUA Singingi Hilir. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca Al-Qur’an semata, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antar warga, khususnya kelompok lansia.

“Bukan hanya anak-anak yang perlu bisa membaca Al-Qur’an. Orang tua juga harus mampu, agar bisa menjadi contoh dan membimbing cucu atau anak mereka di rumah,” ujar H. Isnaini.

Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, karena memberikan ruang belajar yang ramah, bersahabat, dan menginspirasi para lansia untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu agama. Diharapkan program ini dapat berkelanjutan dan menjadi model pembinaan Qur’ani di tingkat desa hingga kecamatan.(MB)