0 menit baca 0 %

Jaga Protokol Kesehatan, MAN 4 Pekanbaru Gunakan QR Peduli Lindungi

Ringkasan: Pekanbaru(Inmas) - Sebagai optimasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) yang antispatif terhadap adanya klaster penyebaran Covid-19 di Madrasah, Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 MAN 4 Kota Pekanbaru, sejak awal Januari 2022 telah memberlakukan QR code PeduliLindungi di pintu masuk Madra...

Pekanbaru(Inmas) - Sebagai optimasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) yang antispatif terhadap adanya klaster penyebaran Covid-19 di Madrasah, Gugus Tugas Pengendalian Covid-19 MAN 4 Kota Pekanbaru, sejak awal Januari 2022 telah memberlakukan QR code PeduliLindungi di pintu masuk Madrasah dan kelas-kelas. Aplikasi QR code PeduliLindungi yang digunakan di pintu masuk madrasah ini, akan mempermudah kegiatan tracing apabila ada yang terpapar Covid-19 bagi setiap warga madrasah (Guru, Tenaga Kependidikan dan Peserta Didik), maupun para tamu madrasah yang berkunjung.

Ariadi Iskandar, M.Pd Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Pekanbaru saat melakukan supervisi di MAN 4 Kota Pekanbaru, memberikan apresiasinya atas penggunaan QR code PeduliLindungi dan pelaksanaan  protokol kesehatan (prokes) di Madrasah ini. Selain itu, langkah preventif yang dilakukan MAN 4 Kota Pekanbaru ini, juga diharapkan mempercepat tingkat ketercapaian vaksinasi penuh para pihak yang mengunjungi MAN 4 Kota Pekanbaru.

Kepala MAN 4 Kota Pekanbaru, Agus Salim Tanjung, MA jelaskan komitmennya untuk hadirkan PTM yang lancar dan sehat dari Covid-19. “Ketaatan pada prokes adalah mutlak selama PTM diselenggarakan, begitu juga dengan penggunaan QR code PeduliLindungi. Siapapun yang tidak menaati prokes, dan tidak memenuhi syarat akses QR code PeduliLindungi, tidak dizinkan beraktifitas dilungkungan Madrasah.”

Melalui penggunaan QR code PeduliLindungi ini, diharapkan capaian vaksinasi penuh (Vaksin 1 dan 2) warga madrasah di MAN 4 Kota Pekanbaru, segera dapat tercapai optimal. Mengingat per-20 Januari 2022 capaian vaksinasi penuh peserta didik di angka 84,02%, sedangkan untuk Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) mencapai 97,32%. “Ketidaktercapaian 100% vaksinasi ini rerata disebabkan oleh masalah administrasi kependudukan, dan masalah kesehatan berdasarkan rekomendasi dokter”, terang Agus. (ana)