0 menit baca 0 %

Jusniwati: Berjihad Memberantas Buta Huruf Al Qur'an

Ringkasan: Kuansing (Kemenag) Semangat pengabdian untuk mencerdaskan generasi muda dalam hal literasi Al-Qur an terus digelorakan oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sentajo Raya, Jusniwati, S.Ag. Pada hari Jum at, 1 Agustus 2025, beliau kembali melaksanakan kegiatan pember...

Kuansing (Kemenag)— Semangat pengabdian untuk mencerdaskan generasi muda dalam hal literasi Al-Qur’an terus digelorakan oleh Penyuluh Agama Islam Fungsional Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sentajo Raya, Jusniwati, S.Ag. Pada hari Jum’at, 1 Agustus 2025, beliau kembali melaksanakan kegiatan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di lingkungan SMA Negeri 2 Sentajo Raya. Jumat (01/08/25)

Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin penyuluhan keagamaan yang difokuskan untuk membantu para siswa yang belum lancar membaca Al-Qur’an, khususnya mereka yang masih pada tahap dasar. Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 30 siswa siswi yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.

 “Inilah tugas besar kami, dan ini menjadi PR keumatan yang harus diselesaikan secara bersama-sama,” ujar Jusniwati dalam keterangannya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, Jusniwati, S.Ag tidak sendiri. Ia didampingi oleh penyuluh agama Islam non-PNS (PPPK) yang secara bersama-sama memberikan perhatian khusus kepada kelompok siswa yang masih belajar Iqra’ 1, yakni tahap awal dalam pengenalan huruf hijaiyah.

Dengan metode pembinaan yang sabar dan penuh motivasi, Jusniwati secara konsisten menyampaikan pesan-pesan penguat kepada para siswa. Ia terus menanamkan keyakinan bahwa setiap siswa pasti bisa membaca Al-Qur’an jika berusaha dengan sungguh-sungguh.

 “Tidak ada kata tidak bisa, pasti bisa!” — kalimat penyemangat ini selalu diulang-ulang oleh Jusniwati kepada para peserta didik sebagai motivasi untuk tidak minder dan terus belajar.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sentajo Raya. Dalam pernyataannya, Kepala Sekolah menyampaikan apresiasi tinggi terhadap program ini dan berharap agar kegiatan serupa dapat dilanjutkan secara berkelanjutan demi mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.

Dari hasil evaluasi berkala, tercatat bahwa program ini telah menunjukkan perkembangan signifikan. Beberapa siswa yang sebelumnya belum mengenal huruf hijaiyah kini telah mampu membaca Iqra’ 1 bahkan mulai memasuki Iqra’ 2. Peningkatan ini menjadi indikator keberhasilan metode penyuluhan yang diterapkan secara intensif dan menyeluruh.

 “Alhamdulillah, dari pertemuan ke pertemuan, kami melihat banyak kemajuan. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus bergerak dan tidak berhenti sampai semua anak mampu membaca Al-Qur’an,” tutup Jusniwati penuh harap.

Kegiatan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an ini bukan hanya bagian dari tugas formal penyuluh agama, tetapi juga merupakan jihad intelektual dan spiritual dalam membangun masa depan umat. Semoga upaya mulia ini senantiasa mendapat ridha dan keberkahan dari Allah SWT, serta membawa manfaat besar bagi generasi penerus bangsa.(RDW/JUS)