0 menit baca 0 %

Ka Kanwil: "Matematika Bukan Mapel yang Harus Ditakuti"

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Mata Pelajaran (Mapel) Matematika tidak harus ditakuti, tapi harus dipelajar. Jika memang tugas atau pekerjaan rumah (PR) tidak mampu diselesaikan, maka siswa atau murid harus berterus terang kepada guru, guru juga diminta lebih bijaksana dalam menyikapi keluhan siswa atau muridny...
Pekanbaru (Humas)- Mata Pelajaran (Mapel) Matematika tidak harus ditakuti, tapi harus dipelajar. Jika memang tugas atau pekerjaan rumah (PR) tidak mampu diselesaikan, maka siswa atau murid harus berterus terang kepada guru, guru juga diminta lebih bijaksana dalam menyikapi keluhan siswa atau muridnya dengan memberikan penjelasan yang lebih mendetail sampai anak didik benar-benar bisa mengerti dengan apa yang diberikan oleh guru. "Sitem pengejaran saat ini bukan lagi seperti tempo dulu yang menerapkan sistem zaman penjajahan Jepang, dimana jika anak didik tidak mengerjakan tugas maka akan dihukum dengan keras, seperti berdiri didepan kelas, memukul dan sebagainya," ungkap Ka Kanwil Kemenag Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, Kamis (7/10) saat membuka Orientasi Persiapan Ujian Nasional Guru Mata Pelajaran Matematika Madrasah Ibtidaiyah yang ditajah oleh Bidang Mapenda di Hotel Indrayani Pekanbaru. Asyari Nur menegaskan, dalam pendidikan anak tidak hanya untuk diberi pelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang ditetapkan, tetepi anak didik juga dilatih menerapkan etika bergaul, moral dan budaya. Misalnya, saat dalam tata tertib sekolah saat masuk kelas anak didik harus memberikan penghormatan atau ucapan salam kepada guru, bahkan ada sekolah yang menerapkan anak didik wajib menyalami guru saat memasuki kelas. "Ini memang tidak ada diatur dalam Undang Undang pendidikan, tapi ini adalah aturan atau etika yang dibuat sekolah untuk menertibkan anak didiknya. Sehingga, dalam diri anak didik tumbuh rasa saling menghormati dan menghargai apalagi terhadap mereka yang lebih tua," jelasnya. Ia menambahkan, sistem pendidikan saat ini jauh berbeda dengan beberapa tahun silam, khususnya pada era 70- 80 an. Dimana, anak dididik sangat takut dengan gurunya, sehingga dari pada bersua dengan guru dijalanan lebih baik menghindar atau berbalik arah. Tapi untuk saat ini, keakraban antara guru dan siswa sudah cukup terjalin, sehingga komunikasi dapat terus berjalan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. "Jadi intinya, untuk belajar kita tidak perlu takut, tapi harus mencoba dan meminta petunjuk jika memang kesulitan dalam mengerjakan sebuah pelajaran. Termasuk dengan guru, guru juga tidak perlu kita takuti tapi dihormati dan disegeani sebagai orang yang lebih tuah dan lebih tahu," tutupnya. (msd)