Ka Kanwil Melepas Petugas dan JCH di Lingkungan Kemenag Riau
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, didampingi Kabag TU, Drs H Albakiran Balim dan Kabid Haji, Zakat dan Wakaf Drs H A. Jalaluddin, Senin (4/10) di Aula Kemenag Riau Jalan Sudirman Pekanbaru melepas Tim Pemandu Haji Indonesia (...
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, didampingi Kabag TU, Drs H Albakiran Balim dan Kabid Haji, Zakat dan Wakaf Drs H A. Jalaluddin, Senin (4/10) di Aula Kemenag Riau Jalan Sudirman Pekanbaru melepas Tim Pemandu Haji Indonesia (TPIH), Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), petugas non kloter dan Jemaah Calon Haji (JCH) yang akan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 1431 H/ 2010 M.
Dalam pengarahannya, Asyari Nur menyampaikan, permasalahan-permasalahan yang akan dihadapi oleh JCH pada saat melaksanakan ibadah haji sudah dijelaskan pada pelaksanaan Manasik Haji. Yang paling rawan masalah adalah pada pemondokan atau hotel dan penerbangan JCH, baik itu saat pemberangkatan maupun pemulangan. "Petugas haji baik itu TPHI maupun TPIHI biasanya hanya memberi laporan kepada pengelola tentang masalah yang dihadapi oleh JCH. Tapi tidak mengurusi hal-hal diluar tugas dan fungsi yang telah ditetapkan, seperti tidak mencarikan hotel untuk JCH dan lain sebagainya," jelas Asyari.
Petugas haji, baik TPHI, TPIHI dan non kloter harus sabar dalam menghadapi JCH yang berbagai karakter tersebut. Apalagi pasca tiba di Makkah atau Madinah, JCH selalu minta dilayani ini dan itu, karena JCH bersangkutan belum mengetahui kondisi dan situasi didaerah tersebut. Namun, selang beberapa hari kedepan, saat JCH sudah mulai tau letak, sarana dan prasarana yang harus mereka gunakan, itu tidak terlalu merepotkan. Namun demikian, petugas harus tetap melakukan pengawasan dan membantu JCH yang kesulitan.
"Hal utama yang perlu diketahui JCH adalah medan ditempat dia berada, jika perlu dan cukup waktu sebaiknya melakukan survey disela-sela kekosongan waktunya. Sehingga, saat JCH bersangkutan mau kemana-mana, khususnya ke Masjidil Haram JCH tersebut sudah tau rute dan transportasi yang mana yang harus mereka gunakan untuk tiba dilokasi," ungkapnya.
Asyari menjelaskan, setiap musim haji biasanya penyelenggara haji yang ada di arab saudi mempersiapkan mahasiswa asal negara bersangkutan untuk memberikan informasi dan pelayanan jika ada JCH yang membutuhkan. Jasa mereka bisa dipergunakan untuk menjaga hotel saat JCH sedang pergi atau bisa untuk mengantarkan JCH kelokasi yang belum diketahui. "Jika kita menggunakan jasa mereka tentunya sedikit tidaknya ada ungkapan terimakasih dengan memberikan sedikit rezki yang kita punya," ujarnya.
Sementara itu, petugas haji TPIH dan TPIHI dan lainnya hendaknya tidak memungut biaya atau menerima imbalan dari JCH dalam melaksanakan tugas. Karena hal itu dapat menyalahi tugas dari TPIH dan petugas haji lainnya yang telah ditunjuk oleh Kemenag.
"Dan yang paling penting yang saya ingin sampaikan, baik kepada JCH maupun pada petugas agar senantiasa dihindarkan dari penyakit bathiniah atau watak. Karena kondisi tersebut akan mempengaruhi pelaksanaan ibadah, seperti sikap emosional, harus benar-benar dimohonkan agar dihindarkan, karena ini bisa berakibat fatal bagi jamaah maupun orang yang bersangkutan," pesannya. "Akhirnya, saya mewakili keluarga besar Kemenag Riau mengucapkan selamat jalan kepada jamaah dan petugas haji, semoga perjalanan ibadah lancar dan pulang membawa haji yang mabrur, amin," tutupnya. (msd)