Kabid Mapendais: Output UN adalah Siswa Cerdas dan Kreatif
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Dalam upacara mingguan yang diikuti oleh karyawan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Senin (25/4), Kepala Bidang Mapendais Drs. H. Edwar S. Umar M.Ag selaku pembina upacara dalam amanahnya menegaskan bahwa salah satu tujuan Ujian Nasional adalah untuk menghasilkan lul...
Pekanbaru (Humas)- Dalam upacara mingguan yang diikuti oleh karyawan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Senin (25/4), Kepala Bidang Mapendais Drs. H. Edwar S. Umar M.Ag selaku pembina upacara dalam amanahnya menegaskan bahwa salah satu tujuan Ujian Nasional adalah untuk menghasilkan lulusan yang cerdas dan kreatif sebagai tolok ukur bahwa proses belajar mengajar telah berhasil dilaksanakan.
"Salah satu output yang diharapkan dari pelaksanaan UN adalah untuk menghasilkan lulusan dan mengetahui kriteria siswa yang dihasilkan. Ada empat kriteria mereka yang lulus dalam ujian yaitu cerdas dan kreatif, cerdas tapi kurang kreatif, kurang cerdas tapi kreatif, dan kurang cerdas juga kurang kreatif. Siswa atau lulusan yang cerdas dan kreatif inilah yang menjadi keinginan para pendidik dan orang tua karena menjadi "vitamin" yang diharapkan memberikan kontribusi besar di masyarakat. Sedangkan bagi mereka yang kurang cerdas dan kurang kreatif bisa menimbulkan beban di masyarakat", jelas Kabid Mapendais.
Kakanwil berharap agar kelulusan siswa yang ikut ujian pada tahun ini bisa lebih besar prosentasenya karena penentuan kelulusan tidak hanya ditentukan oleh Ujian Nasional tetapi juga oleh ujian madrasah.
"Kalau tahun lalu kelulusan siswa madrasah mencapai lebih kurang 92%, maka pada tahun ini (2011) kelulusannya barangkali bisa mencapai 95%, karena penentuan kelulusan komposisisnya 60% ditentukan oleh nilai ujian nasional, sedangkan 40% ditentukan oleh nilai ujian madrasah. Nilai ujian madrasah sendiri terdiri dari nilai rapor dan nilai ujian lainnya. Di sinilah peran sekolah dan guru sangat besar dalam menentukan keberhasilan siswa menempuh ujian", katanya.
Pada bagian lain amanahnya Edwar mengingatkan karyawan bahwa dalam bekerja sering terjadi konflik yang bersifat reguler (berkaitan dengan peraturan) dan bersifat etika. "Saya mendapat laporan dari salah seorang Kepala Sekolah di suatu derah yang mengangkat pembantu atau stafnya karena hanya mereka yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan memiliki kompetensi yang diharapkan. Namun karena kebetulan personal yang bersangkutan adalah keluarga dekat, maka di mata masyarakat menimbulkan gejolak ketikdakpuasan tanpa lebih dalam lagi menyelidiki latar belakang tindakan tersebut. Hal-hal seperti inilah yang nanti akan ditemui dalam menjalankan tugas di masyarakat", jelas Edwar. (as).