0 menit baca 0 %

Kabid Urais Dan Binsyar Kanwil Kemenag Provinsi Riau Adakan Kegiatan Pembinaan Kalibrasi Arah Kiblat Dan Peran Penyuluh Agama Islam Di Aula KUA Kecamatan Mandau

Ringkasan: Mandau (Inmas) - Dalam rangka menyempurnakan arah kiblat di tempat ibadah se-Kecamatan Mandau, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau turunkan tim kalibrasi arah kiblat ke KUA Kecamatan Mandau. Tim yang berasal dari Bidang Urusan Agama Islam dibawah Koordinator H.

Mandau (Inmas) - Dalam rangka menyempurnakan arah kiblat di tempat ibadah se-Kecamatan Mandau, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau turunkan tim kalibrasi arah kiblat ke KUA Kecamatan Mandau. Tim yang berasal dari Bidang Urusan Agama Islam dibawah Koordinator H. Agustiar bersama Tim Teknis mengunjungi KUA Kecamatan Mandau. Senin (20/05/2024)

 

Dalam pembinaan ini, Kepala KUA Kecamatan Mandau, Saim, S.Ag. M.Sh menghadirkan Penyuluh Agama Islam baik yang PNS maupun yang Non PNS. Hadir juga dalam acara pembinaan tersebut. Kabid Urais Kemenag Riau H.  Agustiar, dan seluruh pegawai KUA Kec Mandau.

 

Kepala KUA Kecamatan Mandau Saim, selaku tuan rumah menyampaikan “Ucapan terima kasih kepada rombongan Kanwil Kemenag Riau yang telah memberikan penjelasan dan pembinaan tentang permasalahan arah kiblat ini. Mudah-mudahan hal ini bisa kami jadikan pedoman dalam melaksanakan tugas”. Setelah diberikan pengetahuan teori, penyuluh langsung praktek tentang cara menentukan arah kiblat menggunakan kompas, android dan theodolit.


Menurut Khairunnas, M.Ag sebagai tim teknis, banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk mengukur arah kiblat, namun hal itu hanya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Untuk pembangun mesjid yang cukup luas maka perlu menggunakan theodolit karena hasilnya berbeda jauh. "Salah satu aplikasi yang bisa dilakukan untuk pengukuran arah kiblat dalam skala kecil adalah easyqibla. Aplikasi ini bisa membantu saat bepergian yang tidak menyediakan pentunjuk arah kiblat" ujarnya.


Namun kata Khairunnas, M.Ag, saat akan membangun sebuah rumah ibadah yang cakupannya luas maka perlu menggunakan alat profesional seperti theodolit. Karena tingkat ketelitiannya cukup tinggi, 1 per 3600 derjat. "Ketika kita membangun mesjid atau musala sebaiknya menggunakan theodolit. Karena jika tidak, akan berpengaruh kepada pembangunannya. Hal ini juga berdampak kepada ibadah masyarakat secara umum," ulasnya.


Namun diakui Ahli Hisab ini, kalibrasi (pengukuran) arah kiblat ini sifatnya pasif. Kementerian Agama tidak bisa jemput bola, harus ada permintaan dulu dari masyarakat. "Karena ketika Kemenag tiba-tiba melakukan pengukuran arah kiblat akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Dan akan menimbulkan pro dan kontra di masrayakat. Kenapa arah kiblatnya diukur," jelas beliau


Kemudian jika tidak punya aplikasi, kompas atau theodolit sambungnya masyarakat juga bisa melakukan kalibrasi arah kiblat secara mandiri melalui rasydul kiblat. Sementara itu, Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais), H. Agustiar mengatakan kalibrasi arah kiblat satu dari sepuluh layanan masyarakat yang mesti ada di KUA dan SDMnya harus tersedia.

 

Dikatakan Kabid Uras, mengingat shalat sebagai Ibadah mahdhah dan fardhu a'in bagi setiap individu, maka sangat perlu dikaji syarat dan rukunnya, supaya shalat itu sah dan diterima Allah SWT. "Supaya tidak menimbulkan pro dan kontra di tengah jemaah mesjid dan masyarakat,  sebelum arah kiblat diukur ulang, atau pembangunan mesjid baru ada baiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu,
Setelah sepakat sambung Kabid Urais H. Agustiar, pengurus mesjid atau masyarakat bisa mengirimkan surat permohonan pengukuran arah kiblat ke KUA setempat,  Kankemenag Kabupaten/Kota atau lansung ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau”, pungkasnya