0 menit baca 0 %

Kabid Urais Kanwil Riau: Dakwah Harus Berdampak, Bukan Sekadar Transformasi

Ringkasan: Kuansing ( Kemenag ) Teluk Kuantan, 7 Agustus 2025 Rangkaian kegiatan Pembinaan Dai dan Daiyah Kabupaten Kuantan Singingi yang digelar oleh Seksi Bimas Islam di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi turut menghadirkan narasumber dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, DR.

Kuansing ( Kemenag ) Teluk Kuantan, 7 Agustus 2025 — Rangkaian kegiatan Pembinaan Dai dan Daiyah Kabupaten Kuantan Singingi yang digelar oleh Seksi Bimas Islam di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi turut menghadirkan narasumber dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, DR. H. M. Fakhri, M.Ag.

Dalam pemaparannya, Fakhri menyampaikan materi bertajuk “Sinergi Dakwah dengan Pembangunan Masyarakat”. Ia menggarisbawahi bahwa dakwah yang ideal bukan hanya bersifat seremonial atau sekadar transformasi informasi, tetapi harus memberi dampak nyata di masyarakat.

 “Jika dakwah tidak dijalankan, maka keberhasilan tidak akan pernah tercapai. Dakwah bukan hanya kegiatan menyampaikan, tetapi harus menghadirkan perubahan dan kebaikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Mengutip Surah Al-‘Ashr, beliau menjelaskan bahwa kunci sukses seorang dai dan umat yang tidak merugi terdiri atas empat hal:

1. Memiliki keimanan yang kokoh

2. Berilmu untuk menasihati

3. Menjalankan misi dakwah dengan konsisten

4. Sabar dalam setiap proses dakwah

Prinsip amar ma’ruf nahi munkar juga menjadi dasar yang terus beliau tekankan. Dalam konteks ini, beliau memberikan penjelasan mendalam tentang perbedaan makna antara “khair” dan “ma’ruf”:

- Khair adalah bentuk kebaikan yang secara jelas dan tekstual tertuang dalam nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah.

- Ma’ruf adalah nilai-nilai kebaikan yang diterima secara kontekstual oleh masyarakat, selama tidak bertentangan dengan dalil syar’i.

 “Contohnya, berpakaian tertutup dalam budaya Melayu, atau keengganan masyarakat melakukan pencatatan nikah yang justru berdampak pada kehidupan bernegara. Ini masuk dalam wilayah ma’ruf, yang harus disadarkan melalui pendekatan dakwah,” jelasnya.

Terkait dengan penanggulangan kemungkaran, beliau mengingatkan bahwa jika tidak mampu dicegah dengan tangan, maka cegah dengan lisan.

Beliau juga menegaskan sikap tegas terhadap pernikahan yang tidak dilakukan di Kantor Urusan Agama dan tanpa pencatatan resmi.

 “Tidak ada alasan untuk membenarkan pernikahan di luar sistem negara. Pencatatan nikah bukan semata administratif, tetapi perlindungan hukum bagi keluarga dan anak-anak,” tegasnya.

Ciri Dai Ideal dan Strategi Dakwah

Beliau menguraikan enam karakter yang perlu dimiliki oleh dai yang ideal:

1. Ikhlas, tidak membeda-bedakan umat dan tidak mengukur keberhasilan dari bentuk materi saja

2. Menjadi teladan dalam amal shalih

3. Menguasai ilmu dengan baik

4. Lemah lembut dalam menyampaikan dakwah

5. Menarik manfaat dan menghilangkan mudarat

6. Sabar dan tidak emosional dalam menghadapi dinamika umat

Terkait sasaran dakwah, pendekatan harus dilakukan berdasarkan:

- Status sosial dan ekonomi

- Tingkat keilmuan, dari masyarakat yang paham agama hingga yang belum mengenal

- Usia, baik yang lebih muda, sebaya, maupun lebih tua

- Aspek psikologis, untuk menyesuaikan gaya pendekatan

Adapun metode dakwah dapat bersifat langsung seperti ceramah, kajian, dan diskusi, maupun tidak langsung seperti melalui media sosial, tulisan, dan keteladanan hidup sehari-hari.

Beliau juga menyoroti tantangan dakwah yang datang dari dua sisi: internal, seperti ketidaksiapan personal, dan eksternal, seperti lingkungan sosial dan budaya yang berubah cepat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pembinaan Dai dan Daiyah Kabupaten Kuantan Singingi Tahun 2025, yang diikuti oleh 71 peserta terdiri dari Kepala KUA, penyuluh agama Islam, dan tokoh agama dari seluruh kecamatan di wilayah Kuantan Singingi.

Dengan adanya materi ini, diharapkan peserta pembinaan dapat memperluas wawasan dakwahnya, memperdalam strategi, dan memperkuat sinergi dengan program pembangunan masyarakat, sehingga peran dai tidak hanya spiritual, tetapi juga sosial. (snz)