0 menit baca 0 %

Kakan Kemenag Rohul : Muhammad Sang Pemaaf Sejati

Ringkasan: Pasir Pengarayan (Humas)- Muhammad SAW adalah Rasul utusan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadirannya berfungsi sebagai Rahmatan Lil alamien. Rahmat besar, baik bagi pengikutnya maupun bagi yang tidak percaya dengan ajaran yang dibawanya. Peranannya yang begitu besar menjadikan dirinya memi...
Pasir Pengarayan (Humas)- Muhammad SAW adalah Rasul utusan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadirannya berfungsi sebagai Rahmatan Lil alamien. Rahmat besar, baik bagi pengikutnya maupun bagi yang tidak percaya dengan ajaran yang dibawanya. Peranannya yang begitu besar menjadikan dirinya memiliki sifat-sifat mulia melebihi dari manusia pada umumnya. Sekalipun cobaan, tantangan dan bahkan caci makian begitu banyak diberikan orang kepadanya, namun tidak sedikitpun terbersit dalam hati dan pikiranNya untuk mencederai dan apalagi mencelakakan orang tersebut. Makanya sungguh tepat pernyataan Allah SWT dalam Alqur’an yang menyatakan bahwa di dalam diriNya terdapat suri tauladan yang baik. Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, ketika menyampaikan ceramah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1433 H, Senin (27/2/2012) bertempat di Simpang Tangun Pasir Pengarayan, yang diadakan oleh perkumpulan masyarakat Bangun Purba Satahi (BPS) Pasir Pengarayan, dan dihadiri oleh ratusan anggota BPS Pasir Pengarayan. Menurutnya, diantara sekian banyak perilaku dan sifat Nabi Muhammad SAW tersebut, salah satu di antaranya adalah pemaaf. Beliau memberikan maaf kepada orang lain, bukan karena beliau tidak mampu membalaskan kejahatan orang tersebut. Tetapi beliau tulus ikhlas memaafkannya, sementara orang yang hendak mencelakaknnya tersebut, justru telah tunduk, tersungkur dan menyerah diri di hadapanNya. Disebutkan dalam salah satu riwayat, bahwa ketika Muhammad SAW bersama para sahabatNya pergi ke negeri Thaib meminta perlindungan dan sekaligus mengembangkan ajajaran agama Islam. Para penduduk negeri itu, justru mencaci makinya dan bahkan melemparinya dengan batu-batuan, sehingga badan dan kakinya bengkak lagi berdarah. Sungguh perbuatan kasar luar biasa dilakukan orang Thaib kepadaNya. Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril datang menawarkan diri untuk memberikan hukuman kepada penduduk Negeri Thaib. Jibril berkata, “Ya Muhammad ! Ijinkan aku mengangkat dua bukit di sekeliling negeri ini, lalu saya jatuhkan di atas pundak mereka, sehingga mereka mampus semua karenanya”. Sebuah tawaran yang sepadan dari Malaikat Jibril, sebagai balasan yang harus dipikul orang yang telah menyakitiNya. Muhammad menjawab, “Ya Jibril ! Jangan kau lakukan itu, sebab mereka melakukannya karena mereka tidak tahu”. Muhammad SAW bahkan mendoakan penduduk negeri Thaib, dengan doanya yang terkenal : Ya Allah ya TuhanKu, berikanlah mereka petunjukMu karena mereka berbuat seperti itu kepadaku disebabkan oleh ketidak tahuan mereka. Muhammad SAW, bukan hanya memaafkan mereka, tetapi juga mendoakan mereka. Sungguh luar biasa. Pada ketika yang lain, sewaktu Nabi Muhammad SAW berada di Madinah pasca hijrah. Setiap Muhammad hendak pergi sholat ke masjid, di tengah jalan seorang wanita Yahudi selalu meludahiNya. Setiap hari pekerjaan meludahi Muhammad itu dilakukan si wanita Yahudi itu. Satu ketika Nabi lewat, kebetulan si wanita Yahudi itu lagi “cuti” meludahiNya. Muhammad heran, ada apa gerangan, kenapa hari ini si wanita Yahudi itu tidak meludahinya, padahal pekerjaan meludahi itu telah menjadi kebiasaannya. Sampai di masjid, Muhammad bertanya kepada para sahabatNya tentang kondisi wanita Yahudi itu. Sahabatnya menjawab, si wanita Yahudi itu lagi sakit dan terbaring lunglai di rumahnya. Mendengar jawaban itu, Muhammad cepat pulang ke rumahnya. Dia meminta Aisyah istrinya untuk memasakkan makanan kesukaan si wanita Yahudi itu, dan sekalgus dia bermaksud menjenguknya. Makananpun dimasak dan disiapkan oleh Aisyah sesuai dengan permintaanNya. Muhammad SAW datang menjenguk si wanita Yahudi yang lagi sakit itu di rumahnya. Si wanita Yahudi itu kaget bukan kepalang melihat Muhammad datang menjenguknya, padahal setiap hari dia meludahinya. Si wanita Yahudi itu takut dan gemetar melihat Muhammad. Terbersit dalam pikirannya, Muhammad datang untuk balas dendam dan mecelakainya. Muhammad berkata, “Wahai wanita yahudi ! Jangan takut, saya datang menjengukmu karena engkau sakit. Biasanya kalau saya lewat di depan rumahmu, engkau meludahiku, tetapi hari ini engkau tidak melakukannya. Saya bertanya kepada sahabat saya tentang kondisimu, Mereka menjawab engkau lagi sakit. Atas dasar itulah aku datang menjengukmu, membawakan makanan kesukaanmu, sekaligus berdoa kepada Tuhanku, agar engkau lekas sembuh dan dapat meludahiku kembali seperti kebiasaanmu”. Si wanita Yahudipun meneteskan air mata. Dia tidak mengira semulia itu hati Muhammad. Diapun sadar bahwa Muhammad ini bukanlah manusia biasa. Tetapi Dia adalah seorang utusan Allah. Akhirnya, diapun bersyahadat kepadaNya : Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan saya juga bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah). (ash)