Kakan Kemenag Rohul Sambangi Desa Dayo
Ringkasan:
ROKAN HULU (HUMAS) Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA menyambangi Desa Dayo Kecamatan Tandun, Kamis (20/9/2012). Hal ini dimaksudkan dalam rangka kunjungan kerja rutin ke desa-desa di Rohul, melihat secara langsung kondisi kehidupan umat beragama pada tingkat akar rumput.
ROKAN HULU (HUMAS) Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA menyambangi Desa Dayo Kecamatan Tandun, Kamis (20/9/2012). Hal ini dimaksudkan dalam rangka kunjungan kerja rutin ke desa-desa di Rohul, melihat secara langsung kondisi kehidupan umat beragama pada tingkat akar rumput.
Setelah melihat kondisi kehidupan beragama secara langsung, Kakan Kemenag Rohul melakukan acara Halal Bi Halal dengan masyarakat, sekaligus melepas 8 orang JCH asal Desa Dayo.
Hadir dalam acara tersebut, selain Kakan Kemenag Rohul, juga Camat Tandun yang diwakili Sekcam, Ka KUA Tandun Pujianto Sag, Kades Dayo Ibu Fitria Ruslaini ST, 8 JCH Desa Dayo (yaitu Taufiq dan istri, Muslih dan Istri, Karsim dan istri, Rahmanto dan Rasmi Jamil), alim ulama, cerdik pandai, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan ratusan masyarakat Desa Dayo.
Kakan Kemenag Rohul melihat bahwa kondisi kehidupan beragama masyarakat Desa Dayo sudah sangat baik, program magrib mengaji sudah berjalan, sholat berjamaah ada tiap waktu, dan yang lebih menggembirakan setiap tahun banyak jamaah hajinya. Tahun ini bahkan tercatat sebanyak 8 orang.
Kehidupan masyarakat Desa Dayo dibawah kepemimpinan Ibu Fitria Ruslaini ST sangat sejahtera, rumah-rumah penduduknya besar, masjidnya juga sangat besar รขโฌโ megah - lagi indah. Ini menunjukkan bahwa kesejahteraannya sangat tinggi, tegasnya.
Kakan Kemenag secara berseloroh menyatakan bahwa ternyata kepemimpinan wanita itu sangat menyentuh hati masyarakat. Mungkin kita peru beri peluang untuk ibu-ibu lainnya, memimpin negeri ini kearah yang lebih baik, tegasnya.
Ahmad Supardi lebih lanjut menyatakan bahwa perlu juga dicatat bahwa masyarakatnya gemar membayar zakat, infaq dan shodaqah. Dan bahkan ada seorang warganya atas nama Haji Sayogo membayar zakat Rp60 juta setiap tahun.
Mungkin sudah saatnya kita membuka mata dan mencontoh desa eks transmigrasi ini. Kalau untuk kebaikan, kenapa tidak ? Tandasnya. (Ash).