0 menit baca 0 %

KakanKemenag Kampar Jadi Khotib dan Imam Pertama di Masjid Al-Ikhlas Dusun III Koto Jaya

Ringkasan: Kampar (Humas) - Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA menjadi Khotib dan Imam pertama di Masjid Al-Ikhlas Dusun III Koto Jaya Desa Palung Raya Kec. Tambang. Sebelum menjadi Khotib, Fairus terlebih dahulu meresmikan Masjid Al-Ikhlas Dusun III Koto Jaya Desa Palung Raya Kec.
Kampar (Humas) - Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA menjadi Khotib dan Imam pertama di Masjid Al-Ikhlas Dusun III Koto Jaya Desa Palung Raya Kec. Tambang. Sebelum menjadi Khotib, Fairus terlebih dahulu meresmikan Masjid Al-Ikhlas Dusun III Koto Jaya Desa Palung Raya Kec. Tambang hari Jum’at (07/06) yang disambut langsung oleh Rebbana Desa Palung Raya. Dalam khotibnya Fairus mengatakan, membangun mesjid mungkin barangkali bisa kita bangun dengan semegah mungkin. Tapi, memakmurkan mesjid merupakan hal yang paling susah dan tak gampang. Betapa banyak kita lihat mesjid-masjid yang kosong dari jema’ahnya dalam menunaikan sholat 5 waktu dalam sehari. Padahal Masjid di zaman Nabi merupakan pusat pembinaan ruhiyah (tarbiyah ruhiyah) umat Islam. Di masjid ini ditegakan shalat lima waktu secara berjama’ah. Masjid berperan untuk membina dan meningkatkan kekuatan ruhiyah (keimanan) umatnya. Dalam konteks ini sebaiknya dihayati firman Allah dalam surat An-Nur;36-37: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNYA diwaktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh urusan bisnis dan perdagangan atau aktivitas apapun dari mengingat Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut akan suatu hari, di mana pada hari itu hati dan penglihatan menjadi guncang” Mendirikan shalat berjama’ah lima kali sehari di masjid merupakan salah satu tanda bagi orang beriman, sebagai bukti hati seseorang itu terpaut ke masjid, dan ia selalu mendapat rahmat dari Allah s.w.t. Dengan shalat berjam’ah secara rutin, setiap muslim telah memelihara hubungan baiknya dengan Allah, menjalin silaturahimnya dengan sesama muslim lainnya. Masjid sebenarnya merupakan “kolam-kolam spiritual” yang akan menghilangkan dahaga spiritual setiap muslim. Tujuan didirikannya suatu masjid tercermin dalam kalimat-kalimat azan yang dikumandangkan oleh muazzin. Ketika azan dikumandangkan setiap muslim diperintahkan untuk menjawab/ memenuhi panggilan itu dan meninggalkan segala aktivitas lainnya. Ini merupakan suatu bentuk latihan kepatuhan, kedisiplinan dan latihan militer. Tujuan mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah, “Aqimishalata Lizikriy”(Q.S.Thaha;14). Mengingat Allah merupakan cara yang tepat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan pikiran, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”(Q.S: AR-Ra’du;28). Oleh karena itu masjid merupakan tempat yang ideal untuk menenangkan hati dan pikiran. Di zaman modern ini banyak orang yang hidup gelisah, banyak harta dikorbankan dan berbagai cara dilakukannya untuk memperoleh ketenangan, namun ketenangan yang dicari tak kunjung datang. Oleh karena itu, mari kita fungsikan Masjid sebagai tempat beribadat, seperti shalat dan zikir, sebagai tempat pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, sebagai pusat penerangan dan pembelaan agama. Hal ini harus dilakukan agar masjid-masjid kita dapat menjadi pusat berbagai aktivitas dalam membangun masyarakat muslim yang diridhai Allah, Amiin ya robbal alamin, tutup Fairus. (Ags)