Kakanwil Bahas Persoalan Umat Dengan Ormas Keagamaan
Ringkasan:
Pekanbaru, 5/5 (Humas)- Bertempat di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, sejumlah Ormas Keagamaan yang diwakili oleh masing-masing tokohnya bersilaturrahim dengan Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM sambil membahas persoalan umat semasa. Turut mendampingi, Rektor UIN SUSKA Riau Prof.
Pekanbaru, 5/5 (Humas)- Bertempat di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, sejumlah Ormas Keagamaan yang diwakili oleh masing-masing tokohnya bersilaturrahim dengan Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM sambil membahas persoalan umat semasa. Turut mendampingi, Rektor UIN SUSKA Riau Prof. Dr. HM. Nazir. Dalam pertemuan informal itu didiskusikan berbagai macam masalah, isu-isu, dan perkembangan terakhir kondisi umat khususnya umat Islam dewasa ini.
Pertemuan informal ini merupakan persiapan awal untuk menyusun konsep akademik di bidang pembangunan agama yang akan diajukan kepada Gubernur Riau HM Rusli, demikian keterangan Kasubbag Hukmas dan KUB Kanwil Kemenag Riau Drs. H. Ahmad Supardi Hs, MA. Ada lebih kurang 30 ormas yang diundang, namum yang hadir sekitar 20 an saja, tambah Ahmad.
Sementara itu Kakanwil Kemenag Riau Asyari Nur, dalam kesempatan itu mengangkat berbagai masalah, isu dan gagasan yang patut diangkat terkait pembangunan agama di Provinsi Riau. Antara lain tentang zakat. Sejak dikeluarkan UU 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat sampai kini belum ada keseragaman konsep dalam manajeman zakat antar kabupatan/kota. Padahal sudah hampir 14 abad silam kewajiban menunaikan zakat diberlakukan, tutur Asyari.
Penanganan desa-desa kritis di Riau, baik akidah maupun ekonomi juga patut mendapat perhatian khusus. Kalau tidak diantisipasi semenjak dini, bukan tidak mungkin umat yang sudah beragama akan keluar dari agamanya, apalagi bagi umat yang memang sudah berakidah lemah semnjak awal. Penduduk dari desa-desa kritis ini benar-benar sudah melampaui batas, sampai ada kaum perempuan yang mabuk-mabukan. Untuk itu pemetaan terhadap daerah-daerah tersebut mestilah dilakukan secara cermat, agar data-data yang diperoleh bisa mendukung program pemberian bantuan tepat sasaran dan tepat guna oleh Biro Kesbang Pemprov. Riau.
Sedangkan pembangunan masjid yang produktif dan mandiri, disusun konsep pemberdayaan masjid secara sosial dan ekonomi. Misalnya mencari sumber-sumber penghasilan dari hasil perkebunan sawit, karet dan sebagainya. Kalau pengahasilan dari unit-unit usaha masjid itu lancar, maka biaya operasional Masjid, gaji modin, dan sebagainya bisa ditanggulangi tanpa tergantung kepada zakat, wakaf, infak, dan sedekah dari Jamaah Masjid.
Di sisi pemberdayaan Penyuluh Agama, perlu memeratakan penyebarannya sampai ke pelosok-pelosok daerah dengan membekali mereka ilmu-ilmu keagamaan yang mantap disamping menjamin kesejahteraannya. Yang tak kalah pentingnya juga adalah bagaimana mempromosikan wisata yang ada di wilayah ini. Ada beberapa objek penting yang potensial dikembangkan seperti Masjid Agung, Pesantren Darun Nahdah, Masjid Masjid Raya Nur Alam kota Pekanbaru, Masjid Sultan Siak Kabupaten Siak, Masjid Hibban Kabupaten Pelalawan, Masjid Raya Rengat Kabupaten Indragiri Hulu, Masjid Al-Huda Kabupaten Indragiri Hilir, dan Masjid Kunto Darussalam Rokan Hulu, demikian keterangan Asyari. (as).