Kakanwil: Bentengi Keluarga Dengan Aqidah Kokoh dan Ekonomi Mapan
Ringkasan:
Pasir Pengaraian (Humas)- Dalam rangka kunjungan kerja di ibukota Kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian, Kamis (7/10), Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM berkesempatan memberikan arahan pembinaan pegawai di hadapan karyawan/wati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan...
Pasir Pengaraian (Humas)- Dalam rangka kunjungan kerja di ibukota Kabupaten Rokan Hulu Pasir Pengaraian, Kamis (7/10), Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM berkesempatan memberikan arahan pembinaan pegawai di hadapan karyawan/wati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu. Turut mendampingi adalah Kakankemenag Kabupaten Rokan Hulu Drs. H. Ahmad Supardi Hasibuan MA dan Kasubbag Ortala Drs. H. Asmuni MA.
Dalam sambutan pengarahannya Kakanwil mengharapkan agar pegawai sebagai aparatur pemerintah meningkatkan kinerjanya. "Kita sebagai PNS di lingkungan Kementerian Agama RI hendaknya terus berupaya meningkatkan mutu dan kwalitas kerja sesuai dengan tuntutan masyarakat pada masa kini yang semakin kompleks. Kondisi masyarakat yang sangat heterogen baik etnis, budaya, ekonomi, dan agama sangat rentan terhadap perpecahan dan konflik. Oleh karena itu tugas kita tidak sekedar menjalankan kegiatan kantor sehari-hari tetapi juga dituntut untuk mampu menjadi perekat umat dan penyejuk hati masyarakat," ungkapnya.
Hal lain yang menjadi sorotan Kakanwil adalah tentang maraknya pertikaian antar warga yang dipicu oleh masalah kecil. "Banyak berita di media cetak seperti majalah, surat kabar, maupun media elektronik seperti TV dan Radio yang memberitakan konflik, pertikaian, bahkan bentrok antar warga. Hal itu merupakan refleksi dan dampak kekecewaan masyarakat terhadap jalanya pemerintahan dan kepemimpinan nasional. Oleh karena itu aparatur Kementerian Agama harus bisa menjadi perekat umat di tengah-tengah masyarakat, baik yang berstatus sebagai ulama, muballigh, Kepala KUA, penyuluh agama, da`i, ustadz, dan sebagainya," jelasnya.
"Agama hendaknya tidak dipahami secara tekstual, tetapi mampu dijabarkan secara kontekstual berdasarkan kondisi dan perkembangan masyarakat suatu daerah. Sebab masing-masing daerah memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dari daerah lainnya. Kita jangan mudah terpancing dan terprovokasi oleh isu-isu yang tidak jelas sumbar dan latar belakangnya. Justru karena itu upaya dalam meningkatkan kehidupan beragama haruslah difokuskan pada peningkatan Iman dan Taqwa, sehingga penyimpangan-penyimpangan ajaran agama bisa dihindarkan sedini mungkin.
Sebab pada masa dahulu penyimpangan serupa sudah pernah ada. Di Saudi Arabia misanya dulu ada paham Adzariqah dan paham-paham meyimpang lainnya. Justru karena itu masing-masing kepala keluarga harus mampu menegakkan komitmennya untuk menegakkan aqidah di dalam diri pribadi dan keluarga, disamping itu tak lupa pula menopangya dengan membangun ekonomi yang mantap," paparnya. (as).